Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus mempercepat ekspansi produksi emas sebagai strategi utama mendorong pertumbuhan kinerja dalam beberapa tahun ke depan.
Peningkatan kapasitas produksi, pengembangan tambang bawah tanah, hingga eksplorasi proyek tembaga menjadi katalis utama bagi emiten tambang ini.
Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, mengatakan manajemen BRMS fokus meningkatkan keunggulan operasional untuk mengejar target produksi periode 2025–2029.
“BRMS menyatakan aktivitas penambangan emas terus berlanjut hingga awal April 2026,” ujar Igor dalam risetnya, 5 Maret 2026.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan BNI Sekuritas untuk Perdagangan Selasa (3/3)
Saat ini BRMS tengah meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton per hari.
Ekspansi fasilitas ini ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Di saat yang sama, kegiatan pengeboran juga terus berjalan di proyek tembaga Gorontalo Minerals (GM).
Tambang emas bawah tanah di proyek Poboya dijadwalkan selesai pada pertengahan 2027. Pengembangan ini diperkirakan meningkatkan produksi pada semester II-2027 karena kadar emas yang lebih tinggi, mencapai sekitar 4,9 gram per ton (g/t), dibandingkan kadar saat ini sekitar 1,5 g/t.
BRMS juga telah mengantongi sebagian besar perizinan untuk aset utamanya, termasuk studi kelayakan dan izin lingkungan. Hanya izin produksi untuk aset Linge yang masih dalam proses.
Sementara itu, standar cadangan pertambangan Joint Ore Reserves Committee (JORC) untuk proyek GM ditargetkan diumumkan pada pertengahan tahun depan.
Hasil pengeboran sementara menunjukkan potensi cadangan tembaga GM berukuran besar dan disebut memiliki skala yang sebanding dengan tambang Batu Hijau milik Amman Mineral International.
UBS memperkirakan produksi emas BRMS meningkat dari kisaran 70.000–75.000 ons pada 2025 menjadi sekitar 80.000 ons pada 2026.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham AADI, BBCA, BBNI, JPFA, dan KLBF untuk Perdagangan Rabu (4/3)
Analis OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, menilai proyek tambang bawah tanah Citra Palu Minerals (CPM) dan proyek Gorontalo Minerals akan menjadi mesin pertumbuhan utama perseroan. Ia memperkirakan laba bersih CPM dapat mencapai US$ 102,5 juta pada 2026, melonjak sekitar 94,8% secara tahunan.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, BRMS berencana mengalokasikan belanja modal sekitar US$ 150 juta pada periode 2026–2027, setelah sebelumnya menganggarkan sekitar US$ 100 juta pada 2025.
Seiring peningkatan kontribusi tambang bawah tanah, produksi emas BRMS diproyeksikan dapat mencapai sekitar 161.000 ons pada 2028.
Kenaikan volume produksi serta peningkatan kadar bijih diharapkan mampu menurunkan biaya produksi sekaligus meningkatkan profitabilitas perusahaan. OCBC memperkirakan EBITDA BRMS dapat mencapai US$ 331,3 juta dan laba bersih US$ 232,5 juta pada 2028.
Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo melihat prospek BRMS pada awal 2026 masih menarik, didorong oleh rencana peningkatan produksi dari tambang Poboya yang dikelola PT Citra Palu Minerals.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (6/3), IHSG Berpotensi Bergerak Terbatas
“Peningkatan volume ini dapat meningkatkan kapasitas produksi BRMS menjadi lebih menguntungkan,” kata Azis.
Meski demikian, Azis mengingatkan adanya sentimen terkait isu tata kelola di anak usaha CPM yang dapat memengaruhi persepsi risiko investor. Di sisi lain, tren harga emas global masih menjadi faktor penting bagi kinerja perusahaan.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik dan pembelian emas oleh bank sentral dunia menjadi faktor yang menopang harga emas global. Kondisi ini berpotensi menjadi pendorong kinerja BRMS karena mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari penjualan emas.
UBS memperkirakan pendapatan BRMS pada 2026 mencapai sekitar US$ 379 juta dengan laba bersih US$ 127 juta. Sebagai perbandingan, pendapatan dan laba bersih pada 2025 diperkirakan masing-masing US$ 238 juta dan US$ 51 juta, sementara pada 2024 tercatat US$ 162 juta dan US$ 24 juta.
Baca Juga: Kirim Emas Perdana dari Pani, Simak Rekomendasi Saham Merdeka Gold Resources (EMAS)
Dari sisi rekomendasi, UBS memberikan rating netral dengan target harga Rp 1.200 per saham. OCBC Sekuritas merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.300 per saham, sedangkan Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 965 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













