kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.575   -83,00   -0,47%
  • IDX 6.647   -38,95   -0,58%
  • KOMPAS100 872   -5,08   -0,58%
  • LQ45 661   -5,01   -0,75%
  • ISSI 233   -0,90   -0,39%
  • IDX30 368   -3,41   -0,92%
  • IDXHIDIV20 456   -3,09   -0,67%
  • IDX80 99   -0,68   -0,69%
  • IDXV30 127   -0,57   -0,45%
  • IDXQ30 118   -0,82   -0,69%

BMKS Bidik Peran sebagai Penentu Harga Komoditas, Data dan Transparansi Jadi Fokus


Rabu, 09 September 2026 / 12:08 WIB
BMKS Bidik Peran sebagai Penentu Harga Komoditas, Data dan Transparansi Jadi Fokus
ILUSTRASI. Panen kelapa sawit (KONTAN/BAIHAKI)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA.  Pemerintah berencana membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen. Tetapi juga memiliki peran dalam menentukan harga komoditas yang selama ini banyak ditetapkan melalui pasar di luar negeri.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan bahwa umumnya harga pada bursa komoditas global terbentuk melalui mekanisme pasokan dan permintaan secara transparan, baik melalui lelang maupun perdagangan elektronik.

Benchmark seperti London Metal Exchange (LME) untuk logam dan Chicago Mercantile Exchange (CME) untuk berbagai komoditas menggunakan volume transaksi, likuiditas, dan partisipasi pelaku pasar yang luas sehingga harga yang terbentuk dapat menjadi referensi global.

“Faktor pentingnya adalah likuiditas, transparansi, standardisasi kontrak, serta kredibilitas data harga,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).

Baca Juga: Harga Minyak Dekati US$ 100 per Barel, Bursa Saham Asia Tertekan Konflik Timur Tengah

Terkait rencana pembentukan BMKS, Lukman menilai bahwa Pemerintah perlu menyiapkan regulasi dan tata kelola yang jelas, standardisasi kualitas/grade komoditas, mekanisme perdagangan dan delivery, sistem penyimpanan serta warehouse yang terpercaya, dan mekanisme clearing & settlement yang kuat. Selain itu, perlu memastikan partisipasi produsen, konsumen, trader, dan investor agar likuiditas cukup sehingga harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan kondisi pasar.

Lukman melihat tantangan utama adalah likuiditas yang masih terbatas, rendahnya partisipasi pelaku industri, belum kuatnya kepercayaan terhadap price discovery, serta belum optimalnya infrastruktur delivery dan standardisasi komoditas.

“Solusinya adalah meningkatkan partisipasi produsen dan konsumen besar, memberikan insentif untuk transaksi melalui bursa, memperkuat transparansi dan pengawasan, serta memastikan harga bursa benar-benar kompetitif dan mencerminkan harga pasar yang wajar,” jelas Lukman.

Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya menilai Indonesia melalui BMKS bisa menjadi benchmark pembentukan harga karena hilirisasi telah dilakukan pemerintah untuk berbagai komoditas. Melalui hilirisasi, proses mata rantai pasok berada di Indonesia sehingga dapat menjadi price reference.

Kanca mencontohkan alasan mengapa referensi harga produk kelapa sawit mengacu pada Malaysia dan bukan Indonesia yang notabene merupakan produsen sawit terbesar. Hal itu terjadi karena data kelapa sawit yang ada di Malaysia sangat baik dan informasinya lebih akurat dibanding di Indonesia.

Sebab itu, perbaikan data adalah salah satu indikator yang harus diperbaiki di Indonesia. Dengan data, dapat diketahui berapa banyak suplai yang ada dan berapa banyak demand yang ada. Kanca melihat bahwa pembentukan BMKS merupakan salah satu upaya pemerintah ingin memperbaiki data.

“Kalau semua informasi sudah ada, Indonesia akan sukses dalam membuat price reference dan akan masuk pelaku usaha – pelaku usaha dari luar negeri,” ucap Kanca.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (Kiki) mengatakan bahwa OJK bersama para pemangku kepentingan masih merumuskan mekanisme price discovery yang akan diterapkan dalam BMKS.

Kiki menyebut, OJK melakukan koordinasi secara intensif dengan kementerian maupun lembaga terkait yang tergabung dalam satgas percepatan pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis. Koordinasi tersebut antara lain melibatkan Badan Industri Mineral (BIM), Bank Indonesia (BI), serta pelaku industri.

"Salah satu yang sedang dibahas dengan berbagai stakeholder adalah mengenai price discovery. Ini tentu saja menjadi pertanyaan banyak pihak dan harapan kita terkait price discovery ini. Di mana kita sampaikan bahwa terkait dengan hal ini mekanismenya sedang kami rumuskan dengan melihat praktik serta perkembangan harga komoditas di bursa global dan juga domestik," ujar Kiki.

Kiki bilang, kesiapan ekosistem, infrastruktur pasar, serta tata kelola menjadi aspek penting agar perdagangan melalui BMKS dapat berlangsung secara transparan, efisien, dan berintegritas. Selain itu, keberadaan BMKS diharapkan dapat turut mendorong penciptaan nilai tambah bagi komoditas nasional.

Baca Juga: Ekspansi ke Sektor Energi, Oxala (PIPA) Akuisisi 75% Saham Aztech Pandu Persada

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×