kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.960   -70,00   -0,39%
  • IDX 5.900   153,63   2,67%
  • KOMPAS100 782   22,30   2,94%
  • LQ45 589   19,22   3,38%
  • ISSI 202   4,74   2,41%
  • IDX30 334   11,32   3,51%
  • IDXHIDIV20 411   12,91   3,24%
  • IDX80 88   2,27   2,64%
  • IDXV30 111   2,31   2,13%
  • IDXQ30 107   3,09   2,98%

Bitcoin Tertekan di Dekat US$ 60.000, Akankah Rebound atau Jatuh Lagi?


Rabu, 10 Juni 2026 / 13:31 WIB
Bitcoin Tertekan di Dekat US$ 60.000, Akankah Rebound atau Jatuh Lagi?
ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) masih berada dalam tekanan dan kini menguji level psikologis US$ 60.000 yang menjadi area support penting bagi pelaku pasar.

Melansir CoinMarketCap pada Rabu (10/6) pukul 13.15 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran US$ 61.235 atau melemah 8,52% dalam sepekan dan 24,2% sebulan terakhir.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, mengatakan penurunan harga bitcoin tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, pelemahan terjadi akibat kombinasi tekanan makro global, arus keluar dana dari produk investasi aset digital, aksi ambil untung (profit taking), faktor teknikal, hingga rotasi minat investor ke kelas aset lain.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.965 per Dolar AS Rabu (10/6) Siang, Ini Sentimen Pendorongnya

"Area US$ 60.000 menjadi level psikologis penting karena dipandang sebagai support utama jangka pendek oleh banyak pelaku pasar," ujar Antony kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).

Dari sisi makro, sentimen datang dari data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari ekspektasi turut memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat nonfarm payrolls bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei 2026, sementara tingkat pengangguran bertahan di level 4,3%. Kondisi tersebut membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS atau The Fed menjadi semakin kecil.

Akibatnya, likuiditas yang mengalir ke aset berisiko cenderung lebih terbatas. Selain faktor makro, tekanan juga datang dari sisi arus dana institusional. Antony mengungkapkan, berdasarkan data CoinShares, produk investasi aset digital global mengalami arus keluar dana (outflow) sekitar US$ 1,67 miliar dalam sepekan hingga 1 Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, Bitcoin menyumbang outflow sekitar US$ 1,44 miliar. Bahkan secara kumulatif dalam tiga pekan terakhir, outflow telah mencapai sekitar US$ 4,21 miliar.

"Data tersebut menunjukkan bahwa investor institusional sedang lebih berhati-hati terhadap aset kripto," katanya.

Di saat yang sama, sebagian investor global mulai mengalihkan dana ke pasar saham, terutama saham-saham teknologi, semikonduktor, dan sektor yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca Juga: BI Rate Naik, Akankah Yield SBN 10 Tahun Berbalik Turun?

Menurut Antony, rotasi minat investor ke saham turut menjadi faktor tambahan yang menekan pergerakan bitcoin. Namun demikian, ia menegaskan bahwa perpindahan dana ke saham bukan penyebab utama pelemahan bitcoin.

"Faktor utamanya tetap kombinasi antara sentimen makro, ekspektasi suku bunga, outflow ETF Bitcoin, profit taking setelah rebound sebelumnya, serta likuidasi posisi leverage di pasar derivatif," jelasnya.

Ia menambahkan, ketika harga bitcoin naik terlalu cepat tanpa dukungan arus dana yang kuat, kenaikan tersebut cenderung dimanfaatkan sebagian investor untuk merealisasikan keuntungan. Kondisi itu membuat reli bitcoin belakangan ini sulit bertahan dalam jangka panjang.

Meski pasar masih dibayangi tekanan, Antony menilai investor ritel tidak perlu panik menghadapi koreksi yang terjadi saat ini. Bagi investor jangka panjang yang memahami karakter volatilitas bitcoin, koreksi harga justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi secara bertahap melalui strategi dollar cost averaging (DCA).

Antony juga mengingatkan pentingnya diversifikasi portofolio. Investor tidak harus sepenuhnya beralih dari Bitcoin ke aset lain, tetapi dapat membagi alokasi investasi ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, reksadana, maupun kas sesuai profil risiko masing-masing.

Untuk prospek jangka pendek, Antony melihat area US$ 60.000 masih menjadi level kunci yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.

Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan menuju kisaran US$ 65.000 hingga US$ 70.000 masih terbuka. 

Sebaliknya, jika level tersebut kembali ditembus dengan tekanan jual yang besar, maka risiko koreksi lanjutan ke area US$ 55.000 hingga US$ 58.000 perlu diantisipasi.

Baca Juga: IHSG Naik 2,34% ke 5.881 Sesi I Rabu (10/6), Saham DEWA, BRPT, BBNI Jadi Top Gainers

"Tren rebound masih mungkin terjadi, tetapi membutuhkan konfirmasi dari membaiknya arus dana institusional, meredanya tekanan makro, meningkatnya volume beli, serta stabilnya sentimen terhadap aset berisiko," tutup Antony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×