kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.658   1,00   0,01%
  • IDX 6.686   66,77   1,01%
  • KOMPAS100 877   10,98   1,27%
  • LQ45 666   9,17   1,40%
  • ISSI 233   2,34   1,01%
  • IDX30 372   4,41   1,20%
  • IDXHIDIV20 459   4,13   0,91%
  • IDX80 100   1,30   1,32%
  • IDXV30 127   1,31   1,04%
  • IDXQ30 119   1,06   0,90%

Bitcoin Terkoreksi Lagi, Inflow ETF AS Jadi Sinyal Positif bagi BTC


Selasa, 08 September 2026 / 16:53 WIB
Bitcoin Terkoreksi Lagi, Inflow ETF AS Jadi Sinyal Positif bagi BTC
ILUSTRASI. Bitcoin (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bitcoin (BTC) kembali bergerak melemah setelah sebelumnya berhasil bertahan dan menembus level US$ 80.500 dalam beberapa waktu terakhir, sebelum kembali mengalami tekanan jual.

Melansir Coin Market Cap pada Selasa (8/9/2026) pukul 16.30 WIB, harga Bitcoin bertengger di kisaran US$ 78.461 atau melemah 1,34% secara harian. 

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan di balik tekanan harga saat ini, permintaan institusional masih memberikan sinyal positif. ETF Bitcoin di AS mencatat net inflow sekitar US$ 986,9 juta sepanjang pekan yang berakhir 4 September.

Capaian tersebut memperpanjang tren arus masuk menjadi tiga pekan berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi kontributor terbesar dengan sekitar US$ 691,5 juta atau sekitar 70% dari total inflow mingguan.

Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 80.500, Simak Prospek Pergerakan Berikutnya

Menurut Yudho, keberlanjutan ETF inflow akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah permintaan institusional benar-benar memasuki fase akumulasi.

“Hal menarik adalah harga Bitcoin terkoreksi, tetapi aliran dana institusional masih positif. Apabila ETF tetap mencatat inflow saat Bitcoin bergerak sideways atau bahkan mengalami koreksi, itu akan menjadi sinyal yang lebih kuat bahwa permintaan datang dari proses alokasi jangka menengah, bukan hanya mengejar momentum harga,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).

Investor kini akan menghadapi serangkaian agenda ekonomi penting dalam beberapa hari ke depan, seperti Producer Price Index (PPI) Agustus pada 10 September, kemudian dilanjutkan laporan Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September. CPI AS sebelumnya tercatat tumbuh 3,4% secara tahunan pada Juli.

Data inflasi kali ini menjadi penting karena merupakan salah satu indikator utama terakhir sebelum The Fed menggelar pertemuan kebijakan pada 15–16 September 2026. Pertemuan tersebut juga akan disertai pembaruan proyeksi ekonomi The Fed.

Apabila inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, pasar dapat semakin memperhitungkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong yield obligasi dan dolar AS lebih tinggi, sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi kekhawatiran terhadap pengetatan kebijakan moneter dan membuka peluang bagi Bitcoin untuk keluar dari fase konsolidasi.

Baca Juga: Yen Jepang Jadi Valas Utama Paling Prospektif hingga Akhir Tahun

“CPI akan menjadi salah satu data terpenting pekan ini. Angka yang lebih rendah dari ekspektasi bisa memberikan ruang bagi risk appetite untuk kembali meningkat. Sebaliknya, inflasi yang masih tinggi dapat membuat pasar tetap defensif sampai keputusan The Fed keluar,” ujar Yudho.

Selain data inflasi, pasar obligasi AS juga akan menjadi perhatian. Departemen Keuangan AS mulai 9 September akan meningkatkan ukuran operasi liquidity-support buyback untuk surat utang jangka panjang dari maksimum US$ 2 miliar menjadi setidaknya US$ 4 miliar per operasi. Kebijakan tersebut akan berlangsung hingga 4 November 2026.

Bagi Bitcoin, arah yield Treasury tetap penting. Yield yang lebih tinggi dapat membuat aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik dibandingkan aset yang tidak memberikan yield, sementara stabilisasi yield dapat mengurangi sebagian tekanan terhadap aset berisiko.

Yudho bilang, saat ini pasar belum kehilangan katalis positif, tetapi juga belum memiliki alasan cukup kuat untuk melakukan breakout.

“Selama permintaan ETF bertahan dan Bitcoin mampu menjaga support, konsolidasi ini justru bisa menjadi fondasi untuk fase berikutnya. Kuncinya adalah bagaimana pasar bereaksi terhadap CPI dan pesan The Fed pada pertengahan September,” jelas Yudho.

Untuk proyeksi, dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang terbatas menjelang munculnya katalis baru.

Yudho memperkirakan area US$ 78.000–US$ 79.000 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan. Jika area tersebut mampu dipertahankan, Bitcoin masih memiliki peluang untuk kembali menguji US$ 80.500 dan selanjutnya resistance kuat di sekitar US$ 82.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×