Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di bawah level US$ 79.000 setelah upaya menembus US$ 80.500 gagal bertahan.
Meski tekanan jual meningkat dalam jangka pendek, struktur pasar belum menunjukkan kerusakan signifikan, sementara investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS) dan keputusan The Fed sebagai katalis utama arah Bitcoin berikutnya.
Melansir Coin Market Cap pada Selasa (8/9) pukul 16.15 WIB, harga Bitcoin bertengger di kisaran US$ 78.461 atau melemah 1,34% secara harian. BTC sebelumnya sempat bergerak di atas US$ 80.000 sebelum kembali mengalami tekanan jual.
CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, berpandangan koreksi tersebut lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi global ketimbang perubahan fundamental pada Bitcoin.
Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan di US$ 80.000, Investor Cermati Arah The Fed
“Pasar saat ini sedang mencari keseimbangan baru setelah reli yang cukup kuat. Data ekonomi AS membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga aset berisiko termasuk BTC mengalami tekanan. Namun, sejauh ini kami melihat pergerakannya masih berada dalam fase konsolidasi, bukan perubahan tren fundamental,” ujar Yudho dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Sentimen pasar berubah setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan bahwa nonfarm payroll bertambah 162.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Laporan tersebut dirilis pada 4 September 2026.
Kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat membuat investor kembali mempertimbangkan peluang Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Ekspektasi terhadap suku bunga menjadi salah satu faktor yang menahan reli Bitcoin setelah aset tersebut sempat bergerak di atas US$ 82.000 pada awal September.
Tekanan kemudian diperbesar oleh likuidasi di pasar derivatif. Data menunjukkan sekitar US$ 208 juta posisi kripto terlikuidasi, dengan posisi long menyumbang US$ 119 juta. Pada Bitcoin sendiri, sekitar US$ 55 juta posisi leverage terhapus, termasuk sekitar US$ 35 juta posisi long.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Rebound di Agustus, Ini Katalis dan Risikonya
Dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang terbatas menjelang munculnya katalis baru.
Yudho memperkirakan area US$ 78.000–US$ 79.000 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan. Jika area tersebut mampu dipertahankan, Bitcoin masih memiliki peluang untuk kembali menguji US$ 80.500 dan selanjutnya resistance kuat di sekitar US$ 82.000.
Sebaliknya, apabila BTC turun secara konsisten di bawah US$ 78.000, area US$ 77.200 menjadi support berikutnya yang berpotensi diuji. Bitcoin sebelumnya berada dalam rentang perdagangan yang lebih luas sekitar US$ 77.200 hingga US$ 82.100.
Yudho menyebut pergerakan sideways dalam kondisi saat ini justru dapat menjadi fase penting sebelum pasar menentukan tren berikutnya.
Menurutnya, dalam beberapa hari ke depan, US$ 78.000 menjadi area yang cukup penting. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk kembali menguji US$ 80.500 hingga US$ 82.000 masih terbuka.
“Tetapi untuk mendapatkan konfirmasi bullish yang lebih kuat, pasar membutuhkan breakout di atas US$ 82.000 dengan dukungan volume dan permintaan spot yang solid,” pungkasnya.
Baca Juga: Emas vs Kripto, Mana Lebih Cuan? Bitcoin Melaju 22% di Agustus 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














