Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Serangan militer, ancaman penutupan Selat Hormuz, dan gangguan kapal tanker mendorong harga minyak mentah Brent melonjak.
Melansir Trading Economics pada Selasa (21/7) pukul 10.10 WIB, harga minyak Brent berada di level US$ 88,6 per barel atau naik 4,65% sepekan terakhir. Sepanjang sebulan terakhir, harga minyak sudah naik lebih dari 15% seiring meningkatnya premi risiko geopolitik di kawasan penghasil minyak terbesar dunia.
Bagi Indonesia, dampaknya terasa langsung: potensi kenaikan inflasi, tekanan pada nilai tukar rupiah, dan biaya energi yang makin mahal.
Namun di tengah gejolak tersebut, Bitcoin justru bergerak berlawanan dari yang banyak orang perkirakan. Saat ini Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 65.405 atau naik 1,91% sebulan terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin tetap solid di atas US$ 1,29 triliun.
Baca Juga: Emiten Prajogo (CUAN) Kantongi 19,7 Juta Saham Hasil Buyback, Ini Strategi Berikutnya
Andri Fauzan, Analis Reku, menilai ketahanan Bitcoin ini mencerminkan pergeseran cara investor memandang aset tersebut.
"Bitcoin mulai diperlakukan seperti emas digital oleh investor besar ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Ini berbeda dari dua atau tiga tahun lalu ketika Bitcoin cenderung ikut jual ketika sentimen risiko memburuk," ujar Andri dalam keterangannya, Senin (20/7/2026) malam.
Data pergerakan dompet blockchain menunjukkan akumulasi besar-besaran dari investor kelas kakap dalam dua pekan terakhir. Sejak awal Juli 2026, para whale atau pemegang Bitcoin bermodal besar telah mengakumulasi lebih dari 270.000 BTC senilai sekitar US$ 16,7 miliar.
Satu whale bahkan membuka posisi beli dengan leverage 40 kali senilai US$ 107 juta, setara sekitar 1.660 BTC, di level harga sekitar US$ 64.000 dan saat ini sudah dalam posisi untung. Langkah ini dinilai sebagai sinyal keyakinan kuat terhadap arah Bitcoin dalam jangka menengah.
"Ketika harga terkoreksi dan investor ritel biasanya panik, investor besar justru menambah posisi. Pola ini sudah berulang beberapa kali dalam siklus Bitcoin dan biasanya mendahului pergerakan harga yang lebih signifikan," kata Andri.
Baca Juga: Aneka Tambang (ANTM) dan Bank Muamalat Kolaborasi Distribusi Logam Mulia
Berbagai analis global memproyeksikan Bitcoin berpotensi mencapai kisaran US$ 100.000 atau lebih tinggi sepanjang 2026.
Tiga faktor utama yang menopang proyeksi ini adalah arus masuk dana ETF Bitcoin yang terus meningkat, adopsi dari institusi keuangan besar yang semakin meluas, serta dinamika pasar pasca-halving yang secara historis mendorong kenaikan harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Di tengah ketegangan geopolitik yang mendorong investor mencari aset pelindung nilai, Bitcoin menawarkan proposisi yang unik, yaitu pasokan yang terbatas dan tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan pemerintah manapun.
"Dalam kondisi inflasi energi seperti sekarang, investor perlu mempertimbangkan diversifikasi ke aset yang tidak terpengaruh langsung oleh kebijakan pasokan minyak atau keputusan bank sentral. Bitcoin adalah salah satu pilihan yang semakin relevan untuk peran itu," pungkas Andri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
