kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Bitcoin Hapus Kenaikan Era Trump, Volatilitas Kripto Isyaratkan Ketidakpastian


Sabtu, 07 Februari 2026 / 20:28 WIB
Bitcoin Hapus Kenaikan Era Trump, Volatilitas Kripto Isyaratkan Ketidakpastian
ILUSTRASI. Bitcoin (Robert Schmiegelt/IMAGO via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

Likuiditas Menipis

Probst menjelaskan, rata-rata kedalaman pasar 1% bitcoin yang merupakan ukuran kemampuan pasar menyerap transaksi tanpa memicu fluktuasi harga besar sempat berada di atas US$8 juta pada 2025.

Namun, angka tersebut turun menjadi sekitar US$6 juta setelah 10 Oktober, dan kini hanya berkisar US$5 juta.

Artinya, jumlah bitcoin yang tersedia untuk diperdagangkan di sekitar harga pasar semakin menyusut.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.876 per Dolar AS di Pekan Ini, Cek Sentimennya

Akibatnya, transaksi relatif kecil kini dapat memicu pergerakan harga yang jauh lebih besar dibandingkan sebelum kejatuhan Oktober lalu.

“Tren penurunan likuiditas inilah yang paling mengkhawatirkan,” ujar Probst.

Pelaku pasar pun bersiap menghadapi volatilitas lanjutan dalam jangka pendek, kata Andrew Moss, Kepala Riset Aset Digital di Jefferies.

“Kami melihat sangat sedikit indikator bullish yang mengisyaratkan bahwa pasar sudah benar-benar mencapai dasar,” ujarnya.

Meski kripto masih menjadi bagian kecil dari pasar keuangan global, keterkaitannya dengan sistem keuangan arus utama mulai dari cadangan stablecoin, saham terkait kripto, hingga eksposur perbankan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Bitcoin juga semakin berkorelasi dengan pasar saham saat terjadi tekanan pasar, membuatnya lebih sensitif terhadap perkembangan makroekonomi dan geopolitik, tambah Probst.

Pada Jumat (6/2/2026), indeks saham global menguat seiring investor kembali masuk ke saham teknologi AS setelah aksi jual besar dalam tiga sesi sebelumnya, yang dipicu kekhawatiran belanja kecerdasan buatan.

Seiring itu, bitcoin melonjak lebih dari 10% dan kembali menembus level psikologis US$70.000.

Baca Juga: Moody's Revisi Outlook Indonesia Jadi Negatif, Analis Sarankan Buy On Weakness

Efek Trump

Bitcoin melonjak tajam setelah Trump terpilih sebagai presiden pada November 2024, didorong ekspektasi bahwa pemerintahannya akan merombak kebijakan aset digital dan memenuhi sejumlah janji kampanye, termasuk pembentukan cadangan strategis bitcoin nasional.

Trump sendiri terlibat dalam sejumlah proyek kripto, termasuk koin meme yang menggunakan namanya serta perusahaan World Liberty Financial yang dipimpin oleh anggota keluarganya.

Pemerintah AS bergerak cepat memenuhi tuntutan utama industri kripto dengan menerapkan rezim baru di Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) serta mengesahkan undang-undang untuk mengatur stablecoin berbasis dolar AS. Namun, masih belum jelas kebijakan pro-kripto lain apa yang akan menyusul.

Baca Juga: Wall Street Reli: Dow Tembus Rekor Baru Usai Ditutup di Atas 50.000

Bitcoin sempat terdongkrak oleh janji Trump untuk membentuk cadangan nasional bitcoin.

Meski Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk membentuk cadangan bitcoin dari aset kripto hasil sitaan pemerintah, AS belum melakukan pembelian bitcoin secara besar-besaran, kata Galindo.

“Cadangan itu memang dibentuk, tetapi mungkin tidak menjadi momen besar seperti yang diharapkan sebagian orang sebelum pelantikan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×