Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin kembali menguat dan bertahan di atas level US$ 85.000, mendekati level tertingginya dalam delapan bulan. Penguatan Bitcoin terjadi di tengah derasnya arus dana ke ETF Bitcoin spot Amerika Serikat serta aksi short squeeze yang memperkuat kenaikan harga.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (22/9/2026) pukul 15.30 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 85.430, naik 3,98% secara harian, 11,21% dalam sepekan, dan 12,07% dalam sebulan. Sementara Ethereum berada di level US$ 2.725, naik 1,81% dalam 24 jam terakhir, 10,19% dalam sepekan, dan 13,25% dalam sebulan.
Bitcoin sebelumnya sempat menembus level US$ 87.000 pada perdagangan Senin (21/9/2026), menjadi level tertinggi sejak Januari.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Pasar Menanti Sinyal BI di Tengah Penguatan Dolar AS
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis mengatakan, penguatan Bitcoin dalam beberapa hari terakhir turut didorong oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi.
"Namun antara 18 hingga 21 September, pasar justru berbalik arah dan menguat tajam hingga menyentuh level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Pemicu utamanya adalah penurunan harga minyak dunia, yang meredakan kekhawatiran inflasi di pasar," kata Yudhono dalam media statement, Selasa (22/9/2026).
Selain faktor makro, reli Bitcoin juga diperkuat aksi short squeeze. Banyak pelaku pasar yang sebelumnya mengambil posisi short terpaksa menutup posisi dengan membeli kembali aset ketika harga bergerak naik.
"Momentum ini diperkuat oleh fenomena short squeeze, di mana banyak trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun (short seller) terpaksa membeli kembali aset mereka untuk menutup posisi begitu harga bergerak naik," ujarnya.
Dari sisi aliran dana, ETF Bitcoin spot AS mencatat inflow bersih US$ 999 juta pada 21 September, menjadi arus masuk harian terbesar sejak Oktober 2025. Inflow tersebut dipimpin IBIT BlackRock sebesar US$ 381,4 juta dan ARKB ARK 21Shares sebesar US$ 289,1 juta.
Yudhono melihat arus dana institusional masih menjadi salah satu penopang pergerakan Bitcoin. Untuk akhir 2026, ia memperkirakan Bitcoin berpotensi berada di rentang US$ 100.000-US$ 170.000, sedangkan Ethereum di kisaran US$ 3.000-US$ 4.500, dengan catatan kondisi suku bunga, regulasi dan arus ETF tetap mendukung.
"Proyeksi ini tetap bersifat estimasi, bukan jaminan, mengingat volatilitas pasar kripto yang tinggi," jelasnya.
Baca Juga: Aset Kripto Alternatif Menguat, Zcash Catat Kenaikan 85% dalam Sebulan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














