Reporter: Hasyim Ashari | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. Seusai go public, PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) ingin memperluas bisnisnya. Terregra adalah perusahaan pemasok alat listrik dan jasa pemeliharaan pembangkit listrik. Kliennya antara lain PT Perusahan Listrik Negara (PLN). TGRA tahun ini mencoba merangsek ke bisnis pembangkit listrik dengan membangun pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH).
Pada tahun ini, Terregra berencana membangun empat unit PLTMH di wilayah Sumatra Utara, dengan total kapasitas 36 megawatt (MW). "Saat ini pembangkit listrik masih dalam tahap konstruksi dan diharapkan rampung di semester II-2019," ungkap Sekretaris Perusahaan TGRA Christin Soewito, pada KONTAN, beberapa waktu lalu.
Nilai total investasi empat PLTMH tersebut diperkirakan menelan biaya Rp 1 triliun. Sebagian besar pendanaan berasal dari pinjaman lembaga pembiayaan dan perbankan. Sebagian kecil pendanaan berasal dari dana hasil initial public offering (IPO) senilai Rp 90 miliar. Manajemen Terregra masih mengalkulasi porsi pendanaan empat unit PLTMH tersebut.
Pada 16 Mei 2017, TGRA resmi mencatatkan saham perdana di BEI. Terregra menjual 550 juta saham dengan harga penawaran Rp 200 per saham. Jadi, TGRA meraup dana Rp 110 miliar.
Dalam membangun empat PLTMH ini, TGRA menggunakan skema kontrak engineering, procurement and construction (EPC). Sehingga proses pendanaan awal akan dibiayai kontraktor. Apabila proyek sudah selesai, TGRA akan takeover proyek tersebut dan membayar biaya pembangunannya.
Proyek PLTA
Proyek pembangkit listrik ini baru tahap awal ekspansi TGRA. Setelah rampung membangun empat PLTMH, Terregra bakal membangun lagi empat PLTMH. Alhasil, emiten ini akan memiliki delapan unit PLTMH pada tahun 2021 mendatang. Proyek ini termasuk dalam agenda pembangunan pembangkit listrik hingga 300 MW yang direncanakan selesai selama tujuh tahun ke depan.
Selain proyek PLTMH, TGRA merencanakan pembangunan tiga proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sehingga, semua proyek Terregra menjadi total 11 proyek pembangkit listrik. Berdasarkan prospektus sebelumnya, Terregra telah menunjuk kontraktor EPC, yakni China Energy Engineering Group Guangxi Electric Power Design Institute Co Ltd. "Ini adalah kelompok usaha yang memiliki spesialisasi pembangunan pada pembangkit listrik energi terbarukan," ungkap manajemen TGRA dalam prospektusnya.
Christin juga menuturkan, saat ini TGRA menggarap beberapa bisnis, di antaranya memasok alat listrik, spare part dan jasa maintenance untuk proses pembangkitan. Spesifikasi pekerjaannya antara lain perawatan, pemeriksaan, perbaikan dan ujian kerja untuk mempertahankan peralatan atau mesin agar beroperasi secara optimal.
TGRA fokus pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), namun juga melayani jasa teknis dan pasokan spare part untuk pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTG dan PLTU). Saat ini, Terregra memiliki total 11 proyek dengan target kapasitas terpasang 492 MW, yang semuanya berlokasi di Sumatra Utara. "Tahun ini kami akan memperluas jangkauan ke Indonesia Timur dan Sumatra," ujar Christin.
Untuk menunjang ekspansinya, TGRA mengalokasikan anggaran capital expenditure (capex) tahun ini Rp 12 miliar. Selain memperluas ke Indonesia Timur dan Sumatra, TGRA memakai dana itu untuk mengembangkan 11 proyek. "Kami memproyeksikan pendapatan tumbuh 250% hingga 300%," tutur Christin.
Pada 2016, pendapatan TRGA merosot 445,4% menjadi Rp 11 miliar. Ini dipicu penurunan permintaan perawatan dari PLN, pelanggan utama TGRA. Selain itu, ada penurunan penjualan spare part ke PT Pembangkit Jawa-Bali unit Muara Karang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













