Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laju penerbitan obligasi korporasi diperkirakan melambat pada tahun 2026. Tingginya biaya pendanaan akibat kenaikan yield obligasi dan suku bunga menjadi tantangan bagi emiten untuk kembali agresif mencari dana melalui pasar obligasi.
Melansir data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), pasar obligasi korporasi Indonesia mengalami tren pertumbuhan yang cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, penerbitan obligasi korporasi bahkan mencapai rekor tertinggi, yakni sebesar Rp 216,68 triliun, jauh melampaui nilai obligasi yang jatuh tempo sebesar Rp 151,39 triliun.
Memasuki tahun 2026, nilai obligasi korporasi yang akan jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp 155,02 triliun. Namun, hingga 12 Juni 2026 nilai penerbitan baru tercatat sekitar Rp 75,84 triliun.
Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,75%, PHEI Prediksi Yield Obligasi Tetap Tinggi pada Semester II
Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Salvian Fernando, mencermati sejumlah emiten kini menghadapi tantangan berupa tingkat yield yang lebih tinggi sehingga biaya pendanaan menjadi lebih mahal. Karena itu, sebagian penerbit diperkirakan akan lebih selektif dalam menentukan waktu dan tenor penerbitan obligasi.
Menurutnya, pada 2025 penerbitan obligasi korporasi berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) karena didukung oleh cost of funds yang relatif rendah.
Sementara pada tahun ini, biaya pendanaan telah meningkat seiring tren suku bunga yang masih tinggi. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 dan 18 Juni 2026 bahkan memutuskan untuk menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75%.
"Saya melihat potensi perlambatan penerbitan ada, terutama karena dibandingkan dengan tahun lalu yang level all-time high dengan kondisi cost of funds yang rendah. Menurut saya, tahun ini cost of funds-nya tinggi, punya potensi tidak bisa mencapai level atau melewati level issuance tahun lalu," ujar Salvian dalam agenda Edukasi Wartawan terkait Market Outlook Obligasi Semester II 2026, Kamis (18/6/2026).
Meski demikian, Salvian menyebut nilai penerbitan obligasi korporasi sepanjang tahun ini masih akan bertahan pada level yang relatif tinggi. Pasalnya, nilai obligasi yang jatuh tempo (maturity) pada tahun ini juga cukup besar sehingga mendorong kebutuhan refinancing dari para emiten.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.794, Pasar Cermati MSCI dan BI Rate
Karena itu, ia memperkirakan nilai penerbitan obligasi korporasi tidak akan terlalu jauh berbeda dengan total obligasi yang jatuh tempo sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, prospek pasar obligasi pada semester II 2026 masih dibayangi berbagai tantangan. Salvian memperkirakan yield obligasi akan tetap bertahan pada level tinggi hingga akhir tahun.
"Pada semester II, yield obligasi seharusnya masih akan berada di level tinggi. Ketegangan geopolitik masih ada, dan suku bunga juga kami perkirakan tetap tinggi, termasuk Fed Funds Rate pada semester II tahun ini," katanya.
Asal tahu saja, saat ini yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,968% pada Kamis (18/6), jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang masih di kisaran 6,0%. Sejalan dengan itu, per 12 Juni 2026, yield rata-rata obligasi korporasi tenor pendek atau di bawah lima tahun telah mencapai 7,26%, naik dari 5,19% pada akhir 2025.
Pada tenor menengah atau rentang lima hingga tujuh tahun, yield saat ini berada di level 7,33%, meningkat dari 5,80% pada akhir 2025. Sementara itu, untuk tenor panjang di atas tujuh tahun, yield berada di kisaran 7,33%, naik sekitar 85,3 basis poin sejak akhir 2025 yang di level 6,48%.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,78% ke 6.172 pada Kamis (18/6), ISAT, TLKM, SMGR Jadi Top Losers LQ45
Dengan kondisi tersebut, Salvian menilai peluang penurunan yield obligasi dalam waktu dekat masih terbatas. Namun, ia mengingatkan bahwa arah pasar tetap akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi dan dinamika global dalam beberapa bulan ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













