kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Biaya Dana Naik, Pasar Obligasi Korporasi Berpotensi Makin Terpolarasi


Rabu, 22 Juli 2026 / 18:08 WIB
Biaya Dana Naik, Pasar Obligasi Korporasi Berpotensi Makin Terpolarasi
ILUSTRASI. Obligasi korporasi corporate bond (Shutterstock/Shutterstock). Tren suku bunga tinggi dan lonjakan biaya dana diperkirakan membuat pasar obligasi korporasi semakin terbelah hingga akhir 2026.


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren suku bunga tinggi dan lonjakan biaya dana diperkirakan membuat pasar obligasi korporasi semakin terbelah hingga akhir 2026.

Pertumbuhan penerbitan tetap terbuka, namun korporasi menengah menghadapi beban premi risiko yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan korporasi besar.

Dinamika persaingan likuiditas domestik ini menjadi tantangan berat bagi emiten yang hendak menerbitkan emisi baru.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai investor kini berhati-hati dan lebih selektif memilih emiten berperingkat kuat dengan arus kas sehat.

Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Korporasi Turun, Refinancing Jadi Penopang Semester II

Kondisi tersebut memicu ketimpangan akses pendanaan di pasar modal antara perusahaan skala besar dan menengah.

"Akibatnya, pasar berpotensi terbelah antara korporasi besar yang masih mudah mengakses pendanaan dan emiten menengah yang harus membayar premi risiko lebih mahal," ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Rizal menambahkan bahwa kenaikan suku bunga acuan akan langsung menaikkan benchmark pembiayaan serta kupon instrumen baru.

Di sisi lain, maraknya penerbitan SBN dan besarnya instrumen SRBI yang menawarkan imbal hasil menarik turut mempersempit likuiditas pasar obligasi korporasi.

"Kondisi ini menunjukkan adanya crowding out, sehingga pemerintah dan otoritas moneter perlu menjaga keseimbangan," kata Rizal.

Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi pada Semester II Diproyeksi Tetap Terjaga

Sementara itu, data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penerbitan surat utang korporasi Semester I-2026 menyusut 3,91% YoY menjadi Rp 87,35 triliun.

Sesuai proyeksi Rizal, pasar terlihat makin terspesialisasi pada emiten berperingkat tinggi.

Pefindo mencatat penerbitan Semester I didominasi oleh peringkat single A sebesar 44,78%, triple A 35,26%, dan double A 19,96%, sedangkan instrumen berperingkat BBB belum mencatat penerbitan.

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengonfirmasi bahwa biaya dana yang tinggi tercermin dari kenaikan yield di pasar sekunder.

Peningkatan imbal hasil acuan SBN secara langsung mendorong pembentukan kupon yang lebih tinggi di seluruh tingkat peringkat.

"Kenaikan yield ini juga membuat pembentukan kupon yang terjadi di pasar sudah mengalami peningkatan, yang mana kami perkirakan trennya masih akan terus berlanjut seiring dengan kondisi yield benchmark yang juga tinggi dan arah kebijakan moneter kita yang akan mengetat ke depan," kata Suhindarto dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026).

Baca Juga: Obligasi Pemerintah Terkoreksi Lebih Dalam Dibanding Korporasi, Ini Penyebabnya

Meski demikian, Pefindo optimistis penerbitan semester II tetap solid karena nilai jatuh tempo melonjak hingga Rp 107,51 triliun.

Besarnya nilai jatuh tempo tersebut memaksa emiten melakukan refinancing di tengah tingginya biaya dana.

Guna menghindari risiko refinancing gap, korporasi dianjurkan mengoptimalkan kas internal dan mendiversifikasi sumber pendanaan.

Langkah antisipasi dini dinilai sangat krusial agar emiten tidak menanggung beban bunga yang terlampau tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×