Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun serta keputusan Bank Indonesia (BI) yang tiba-tiba menaikkan BI Rate menjadi 5,50% mencerminkan upaya otoritas memperkuat daya tarik instrumen rupiah di tengah tekanan pasar keuangan dan pelemahan nilai tukar.
Tercatat, yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,4% pada Selasa (9/6). Tetapi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 7,57% ke level 5.746,65 pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Ada pun rupiah ditutup menguat 0,71% menjadi Rp 18.058 dari hari sebelumnya yang Rp 18.188 per dolar AS.
Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan kenaikan BI Rate kali ini tidak semata-mata ditujukan untuk memengaruhi penyaluran kredit perbankan. Kebijakan tersebut justru menyasar transmisi moneter di luar kanal kredit bank, terutama melalui pasar uang, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga arus modal portofolio asing.
Baca Juga: Indeks Saham Bahan Baku Terseret Gejolak Pasar, Simak Rekomendasi dari Analis
“Ketika BI menaikkan suku bunga, pasar membaca bahwa otoritas ingin menaikkan daya tarik aset rupiah agar investor memperoleh kompensasi lebih tinggi atas risiko kurs,” jelas Syafruddin saat dihubungi Kontan, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan, BI saat ini sedang menggunakan instrumen suku bunga untuk memengaruhi harga risiko di pasar keuangan. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat rupiah, menahan arus keluar modal asing (capital outflow), meningkatkan daya tarik instrumen rupiah, serta membangun kembali kepercayaan investor terhadap aset domestik.
“Itu berarti BI melihat tekanan rupiah tidak cukup ditangani lewat intervensi valas saja. BI perlu menaikkan imbal hasil agar investor asing kembali menilai aset rupiah layak dipegang,” lanjut Syafruddin.
Akan tetapi, Syafruddin menekankan, tujuan likuiditas perlu dibedakan dari tujuan daya tarik yield. Kenaikan BI Rate dan SRBI cenderung menaikkan harga uang, sedangkan pembukaan repo tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bertujuan menjaga kecukupan likuiditas perbankan agar pengetatan suku bunga tidak berubah menjadi kekeringan dana di pasar uang.
Dengan kata lain, BI menjalankan dua strategi sekaligus, menaikkan imbal hasil untuk menarik kembali dana portofolio, lalu menyediakan repo agar sistem keuangan tetap cair. Langkah ini dinilai cukup defensif dan sangat berorientasi pada stabilisasi rupiah.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan faktor di balik kenaikan yield SBN 10 tahun saat ini merupakan kombinasi tekanan domestik dan eksternal yang saling memperkuat.
Namun Yusuf menekankan, pada fase terakhir, pemicu utamanya adalah pelemahan rupiah. Ke depan, arah yield akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar.
Dari sisi pasar, kenaikan yield ini sebenarnya lebih mencerminkan meningkatnya premi risiko dibanding hilangnya kepercayaan terhadap Indonesia. Pasar sedang meminta kompensasi yang lebih besar karena ketidakpastian meningkat, terutama terkait arah rupiah dan kebijakan fiskal ke depan.
“Karena itu saya membedakan antara kepercayaan yang melemah dan kepercayaan yang hilang. Sampai saat ini investor asing masih tetap memiliki eksposur yang cukup besar di pasar SBN. Artinya, Indonesia masih dianggap menarik, tetapi dengan harga risiko yang lebih mahal,” jelas Yusuf.
Sehingga, yang perlu diwaspadai bukan semata-mata level yield yang naik ke atas 7,0%, melainkan jika level tersebut bertahan lama tanpa perbaikan fundamental. Dalam kondisi seperti itu, biaya bunga utang akan meningkat dan persepsi pasar bisa berubah menjadi lebih negatif.
Secara valuasi, Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, bilang kalau yield SBN saat ini sudah jauh lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang, level yield di atas 7% mulai menawarkan peluang yang cukup menarik untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
“Namun, mengingat volatilitas pasar masih relatif tinggi dan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda, strategi yang lebih bijak adalah melakukan pembelian secara bertahap atau staggered entry dibandingkan masuk sekaligus dalam satu waktu,” ungkap Domingus.
Dengan yield SBN tenor 10 tahun yang saat ini berada di sekitar 7,31%, Syafruddin memperkirakan pergerakan yield hingga akhir tahun akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas rupiah dan perkembangan kondisi global.
Dalam skenario dasar, yield SBN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 7,0% hingga 7,4% apabila nilai tukar rupiah stabil dan tekanan global mereda.
Namun, jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan premi risiko Indonesia yang tercermin dari credit default swap (CDS) terus meningkat, yield SBN tenor 10 tahun berpotensi naik lebih tinggi ke kisaran 7,5% hingga 7,8%.
Baca Juga: Buyback Rp 4 Triliun dan Komisaris Baru Memperkuat Transformasi Telkom
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












