kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

BI hati-hati lakukan intervensi, kenapa?


Jumat, 21 Juni 2013 / 14:11 WIB
ILUSTRASI. Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping.


Reporter: Annisa Aninditya Wibawa | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Nilai tukar rupiah cenderung melemah. Hal ini membuat Bank Indonesia (BI) gusar dan tentu saja bank sentral ini berusaha melakukan intervensi. Namun, dalam melakukan intervensi itu, BI mengaku melakukannya secara hati-hati.

"Kondisi eksternal masih berpengaruh. Sisi domestik, keputusan harga BBM juga masih menunggu. Kalau bisa kami melakukan secara berhati-hati. Karena tekanannya besar," ucap Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, Jumat, (21/6).

Ia menjelaskan, pihaknya tengah mencoba keseimbangan di pasar. Menurutnya, hal tersebut harus melihat volume mata yang ada, dan harus melihat kondisi permintaan dollar Amerika Serikat (AS) di masyarakat.

Apalagi, kata Dody, kondisi global sedang memburuk. Ini terkena faktor quantitative easing, tapering off dari Amerika Serikat. Menurutnya, waktu penyelesaian masalah Dario luar negeri itu masih dalam perdebatan. Ada yang optimistis tahun ini selesai, 2014, dan juga 2015.

Dody bilang, hal tersebut membuat tekanan terhadap rupiah cenderung besar. Dody bilang, pengaruh eksternal tak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga kawasan regional.

Selain dari sisi luar negeri, dari sisi domestik juga masih terkena dampak, terutama dari keputusan harga BBM. Pasalnya, kenaikan harga BBM ini belum juga diumumkan oleh pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×