kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Berikut instrumen yang layak dicermati saat tren suku bunga naik


Rabu, 30 Mei 2018 / 20:53 WIB

Berikut instrumen yang layak dicermati saat tren suku bunga naik
ILUSTRASI. Reksadana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 4,75% diharapkan dapat meredam gejolak nilai tukar rupiah yang belakangan bergerak liar. Tren kenaikan suku bunga acuan juga berpotensi memoles imbal hasil sejumlah instrumen seperti deposito, obligasi, maupun reksadana pendapatan tetap dan pasar uang sebagai instrumen turunannya.

Momentum ini juga dapat menjadi peluang bagi investor memilah kembali instrumen investasi andalannya. Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai, kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi meningkatkan performa obligasi, baik besutan pemerintah maupun korporasi. Dengan catatan, kondisi nilai tukar rupiah bisa lebih stabil.


Untuk itu, Farash berpendapat, investor yang memiliki toleransi terbatas terhadap volatilitas dan horizon investasinya pendek hingga menengah, ada baiknya berinvestasi di reksadana pendapatan tetap yang membagikan dividen secara reguler.

Sedangkan, investor dengan profil sebaliknya, dapat berinvestasi di instrumen saham maupun reksadana yang portofolionya terdiri dari saham big caps dengan fundamental kuat. "Contohnya, saham atau reksadana yang berbasis indeks IDX30 atau LQ45. Tapi, eksekusi investasinya dilakukan secara bertahap saja," paparnya, Rabu (30/5).

Sementara, potensi instrumen pasar uang, menurut Farash, belum akan signifikan. Sebab, likuiditas bank saat ini masih cukup besar sehingga kenaikan suku bunga acuan belum tentu elastis terhadap kenaikan bunga deposito.

Investor tetap harus mengantisipasi ketidakpastian global yang juga masih menyelimuti pasar saat ini. Ketegangan geopolitik, potensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, serta potensi krisis Italia dan Uni Eropa, berpeluang menekan pasar modal lebih dalam.

Untuk itu, Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Budi Raharjo menyebut, dalam jangka pendek satu hingga dua tahun ke depan, instrumen pasar uang lebih disarankan sebagai pilihan. "Tujuannya memang bukan untuk growth, tapi menjaga nilai modal agar tidak tergerus volatilitas pasar," ujarnya, Rabu (30/5).

Budi tak memungkiri, instrumen pendapatan tetap masih cukup menjanjikan. Naiknya suku bunga acuan berpotensi meningkatkan imbal hasil sekaligus menurunkan harga obligasi. Namun, ia menyarankan akumulasi obligasi di saat harganya terkoreksi sebaiknya dilakukan oleh investor yang horizon investasinya di atas dua tahun.

Sama halnya untuk instrumen saham berfundamental apik yang kini tengah banyak terdiskon, "Silakan investor akumulasi untuk jangka panjang lima hingga tujuh tahun ke depan," sarannya.

Kendati pamor aset safe haven menanjak di tengah ketidakpastian global, Budi tak begitu menyarankan emas sebagai pilihan saat ini. Alasannya, dollar AS saat ini masih terus menguat sehingga harga emas tertap tertekan. Terbukti, pada Rabu hingga pukul 17.35 WIB, harga emas kontrak pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange masih terkoreksi 0,17% ke level US$ 1.296,80 per ons troi.

Sebagai aset safe haven paling diincar saat ini, Budi menilai, dollar AS sah-sah saja dipertimbangkan menjadi simpanan. Meski begitu, mata uang negeri Paman Sam ini juga sebaiknya hanya jadi diversifikasi investasi jangka pendek saja. Menurutnya, fundamental perekonomian Indonesia yang menjanjikan masih berpotensi menarik perhatian investor masuk kembali ke pasar dalam negeri.


Reporter: Grace Olivia
Editor: Dupla Kartini
Video Pilihan


Close [X]
×