Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus utang berbasis agunan saham yang menjerat kelompok usaha Bakrie pada 2008 menjadi pengingat bagi perbankan terhadap risiko penurunan harga saham yang dijaminkan. Kali ini, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menyoroti penjaminan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Dalam riset 9 Oktober 2026, Nurkholis menilai, meski nilai agunan saham JARR dan PGUN saat ini masih jauh di atas estimasi pinjaman, penurunan harga saham secara tajam dapat menggerus perlindungan kreditur. Risiko tersebut mengingatkan pada pengalaman kelompok Bakrie, ketika nilai saham yang dijaminkan merosot hingga membuat rasio pinjaman terhadap agunan melonjak.
Pada 30 September 2026, PT Eshan Agro Sentosa menjaminkan 7,99 miliar saham JARR atau setara 86,64% dari saham beredar kepada BMRI. Sementara itu, PT Araya Agro Lestari, PT Citra Agro Raya, dan PT Baramega Citra Mulia Persada menjaminkan total 5,30 miliar saham PGUN kepada bank tersebut sebagai agunan fasilitas kredit bagi perusahaan afiliasi. Penjaminan ini tidak mengubah pengendalian atas kedua emiten.
Baca Juga: Investor Emas Perlu Cermati Arah Dolar AS hingga Risiko Geopolitik
Mirae Asset memperkirakan, apabila pembelian 10,08 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh PT Jhonlin Baratama sepenuhnya dibiayai utang, nilai fasilitas kredit yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp 26,1 triliun. Transaksi saham BYAN sebanyak 30,25% tersebut terjadi pada harga Rp 2.588 per saham di pasar negosiasi pada 7 Oktober 2026.
Berdasarkan harga penutupan 8 Oktober 2026, nilai saham JARR dan PGUN yang dijaminkan mencapai Rp 73 triliun. Dengan asumsi pinjaman Rp 26,1 triliun, rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau loan-to-value (LTV) diperkirakan sekitar 36%.
Namun, rasio tersebut dapat meningkat menjadi 41% jika menggunakan rata-rata harga saham selama 90 hari, dan mencapai 65% jika mengacu pada harga terendah dalam periode yang sama.
Per Senin (12/10/2026) harga saham PGUN telah turun 3,97% di level Rp 8.475 per saham. Atau turun sebesar 13,08% dari harga penutupan pada 30 September 2026.
Sementara saham JARR telah turun 9,97% di level Rp 2.800 per saham per Senin (12/10/2026). Tapi jika dibandingkan tanggal 30 September 2026 saham JARR telah anjlok 21,79%.
Belajar dari kasus Bakrie 2008
Nurkholis mengingatkan bahwa kasus kelompok Bakrie pada 2008 menunjukkan bagaimana penurunan harga saham dapat mengubah posisi agunan yang semula terlihat aman menjadi sumber tekanan bagi kreditur.
Baca Juga: Akuisisi Emiten Marak, Investor Perlu Waspadai Potensi Backdoor Listing
Pada Januari 2008, Bakrie & Brothers mengumumkan akuisisi senilai Rp 48,4 triliun untuk mengambil alih saham pengendali PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan dua perusahaan afiliasinya.
Dalam periode April hingga Oktober 2008, kelompok usaha tersebut dilaporkan meminjam sekitar US$ 1,2 miliar–US$ 1,4 miliar dengan menjaminkan saham BUMI dan perusahaan afiliasinya. Pada puncak valuasi, nilai saham yang dijaminkan diperkirakan mencapai US$ 6 miliar, sehingga LTV saat itu hanya sekitar 20%–25%.
Angka tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan estimasi LTV 36% dalam analisis Mirae Asset atas penjaminan saham JARR dan PGUN saat ini.
Masalah muncul ketika harga saham BUMI yang sebelumnya melonjak dari Rp 950 per saham pada Januari 2008 menjadi rekor Rp 8.750 per saham pada Juni 2008, kemudian mengalami kejatuhan tajam seiring gejolak pasar.
Pada 6 Oktober 2008, nilai saham yang dijaminkan dilaporkan menyusut menjadi sekitar US$ 1,35 miliar. Akibatnya, LTV melampaui 100%, bahkan dengan asumsi konservatif. Kreditur meminta penambahan agunan, sementara enam saham yang terafiliasi dengan kelompok Bakrie sempat disuspensi.
Ketika perdagangan BUMI kembali dibuka pada 6 November 2008, saham tersebut menyentuh batas penurunan harga otomatis selama empat hari berturut-turut. Antrean jual pada hari pertama dilaporkan mencapai sekitar 1,9 miliar saham atau setara 10% dari saham beredar.
Pada akhirnya, utang Bakrie dialihkan kepada Northstar, Brentwood, dan Ancora dengan imbalan saham BUMI yang dijaminkan. Padahal, BUMI masih membukukan laba bersih US$ 645 juta sepanjang 2008. Kasus tersebut menunjukkan bahwa kinerja laba perusahaan tidak serta-merta melindungi harga saham dari tekanan pasar maupun mencegah memburuknya posisi agunan.
Menurut Mirae Asset, persoalan utama dalam skema pinjaman berbasis agunan saham bukan hanya besarnya nilai agunan pada saat kredit diberikan, melainkan juga ketahanan nilai tersebut ketika harga saham terkoreksi dan kemampuan kreditur untuk menjual saham tanpa memperparah penurunan harga.
Baca Juga: Free Float Baru 11,1%, Saham PGEO Punya Katalis Ekspansi dan Revisi Tarif
Dalam kasus JARR dan PGUN, sekitar 66% nilai agunan berasal dari saham PGUN. Saham ini memiliki nilai transaksi harian di bawah Rp 1 miliar dan diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sekitar 178 kali.
Nurkholis menilai, karakteristik tersebut membuat saham PGUN sulit dilikuidasi dalam jumlah besar tanpa menekan harga secara signifikan. Dengan demikian, nilai agunan yang tinggi secara nominal belum tentu dapat direalisasikan sepenuhnya jika kreditur harus menjual saham untuk memulihkan pinjaman.
Di sisi lain, BMRI sebagai satu-satunya penerima agunan dinilai memiliki risiko lebih kecil untuk melakukan penjualan secara terburu-buru dibandingkan situasi ketika beberapa kreditur berlomba-lomba melepas saham yang sama. Meski demikian, ruang mitigasi tetap terbatas karena seluruh saham pengendali yang menjadi agunan telah dijaminkan, sehingga tidak tersedia saham tersisa untuk menambah agunan jika LTV meningkat.
Mirae Asset memperkirakan penurunan nilai agunan sekitar 64% akan membuat nilainya berada di bawah asumsi pinjaman yang digunakan dalam analisis tersebut.
Di luar persoalan ini, Mirae Asset mempertahankan pandangan bearish terhadap BMRI karena likuiditas bank yang ketat, keterbatasan permodalan, serta potensi kenaikan risiko kualitas aset dari sektor konstruksi BUMN.
Rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan-to-deposit ratio (LDR) BMRI mencapai 94,4% pada Januari–Agustus 2026, sementara deposito tumbuh 48% secara tahunan. Pada semester I-2026, rasio kecukupan modal bank saja turun menjadi 17,5%, sedangkan rasio cadangan kerugian terhadap kredit atau loan loss reserve (LLR) berada di sekitar 2,4%, terendah sepanjang sejarah BMRI menurut riset tersebut.
Mirae Asset juga menilai ruang penurunan biaya kredit masih terbatas setelah kenaikan risiko dari sektor konstruksi BUMN. Kombinasi faktor tersebut membuat prospek BMRI masih dibayangi tekanan likuiditas, modal, dan kualitas aset, di tengah risiko tambahan yang perlu dicermati dari agunan saham JARR dan PGUN.
Baca Juga: Cisadane Sawit (CSRA) Bagi Dividen Interim Rp 30,75 Miliar, Potensi Yieldnya 2,19%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














