kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Free Float Baru 11,1%, Saham PGEO Punya Katalis Ekspansi dan Revisi Tarif


Senin, 12 Oktober 2026 / 17:32 WIB
Free Float Baru 11,1%, Saham PGEO Punya Katalis Ekspansi dan Revisi Tarif
ILUSTRASI. Dubes Jepang kunjungi Pertamina Geothermal (Dok/PGEO)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) masih dibayangi sejumlah sentimen, mulai dari ekspansi kapasitas pembangkit dan potensi revisi tarif panas bumi hingga pemenuhan ketentuan free float Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, PGEO memiliki peluang meningkatkan kapasitas terpasang dari 727 megawatt (MW) pada proyeksi tahun buku 2026 menjadi 988 MW pada 2028.

Ekspansi tersebut ditopang oleh pengembangan proyek Ulubelu Binary berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2027 serta proyek Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas gabungan 110 MW pada 2028. Proyek Hululais juga telah didukung pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) sekitar US$ 190 juta.

Baca Juga: Cisadane Sawit (CSRA) Bagi Dividen Interim Rp 30,75 Miliar, Potensi Yieldnya 2,19%

“Capacity factor rata-rata juga naik ke 90,2% berkat dispatch yang lebih tinggi saat pasokan batubara, gas, dan diesel berkurang,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Kemudian Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, mencermati katalis PGEO terdekat dalam enam bulan ke depan adalah potensi perubahan free float (saham beredar di public). Saat ini dicermati free float PGEO hanya sebesar 11,1%, atau 3,9 poin persentase di bawah ketentuan minimum kepemilikan publik sebesar 15% yang diwajibkan Bursa Efek Indonesia (BEI) paling lambat Maret 2027.

“Kami memetakan sejumlah opsi yang paling memungkinkan untuk menutup kesenjangan tersebut melalui satu transaksi. Dalam asumsi kami, PGEO akan langsung meningkatkan free float menjadi 15%, alih-alih menaikkannya secara bertahap menjadi 12,5% terlebih dahulu,” ungkap Jeremy.

Jeremy juga bilang, PGEO dapat dijadikan pilihan saham defensi di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi bertahan lebih lama.

Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini, yang diperburuk oleh terbatasnya pasokan batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta tingginya harga solar, juga berpotensi meningkatkan faktor kapasitas pembangkit PGEO.

Di luar pertumbuhan organik, Abida bilang, potensi revisi tarif panas bumi melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 serta peluang akuisisi aset panas bumi milik Geo Dipa Energi juga dapat menjadi katalis tambahan bagi PGEO.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi Usai Sentuh Level Tertinggi Sepekan, Cek Pemicunya

Tak sampai situ saja, dengan tarif listrik panas bumi saat ini sebesar 9,5 sen AS per kilowatt hour (kWh), pengembangan pembangkit baru menggunakan teknologi flash dinilai hanya mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang mendekati biaya modal. Kondisi ini membuat proyek panas bumi baru atau greenfield menjadi kurang menarik secara ekonomi.

Berdasarkan valuasi real options, nilai proyek panas bumi PGEO yang belum dikembangkan dengan kapasitas mencapai 3 gigawatt (GW) diperkirakan hanya sebesar Rp 11 per saham. Namun, nilai tersebut berpotensi meningkat hampir tiga kali lipat apabila tarif ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam keputusan menteri.

Di sisi lain, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menargetkan penambahan kapasitas pembangkit panas bumi sebesar 5,1 GW hingga 2034.

"Sebanyak 89% dari tambahan kapasitas tersebut diproyeksikan berasal dari pengembang listrik swasta atau independent power producer (IPP), revisi tarif dinilai lebih merupakan persoalan waktu daripada kemungkinan terjadinya,” jelas Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi.

Namun, sejumlah risiko tetap perlu dicermati. Normalisasi pasokan batubara yang lebih cepat berpotensi mengurangi penyaluran listrik dari pembangkit panas bumi. Selain itu, keterlambatan perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) maupun proyek, serta kenaikan belanja modal (capital expenditure/capex) dan biaya akuisisi, dapat menekan prospek kinerja perseroan.

Menurut Abida, kualitas aset Geo Dipa juga perlu diperhatikan apabila rencana akuisisi berlanjut. Pasalnya, produksi listrik perusahaan tersebut turun dari 859 gigawatt hour (GWh) pada 2024 menjadi 763 GWh pada 2025.

Abida menambahkan, sebagian pertumbuhan produksi PGEO pada tahun ini turut ditopang tingginya penyaluran listrik ketika pasokan energi fosil terganggu. Kondisi tersebut membuat pasar turut memperhitungkan risiko normalisasi penyaluran listrik apabila pasokan energi fosil kembali membaik.

Baca Juga: Produksi & Ekspansi Jadi Penopang Pertamina Geothermal (PGEO), Ini Rekomendasi Analis

Dari sisi keuangan, PGEO diproyeksikan membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada 2026. Berdasarkan riset KISI Research, pendapatan PGEO diperkirakan mencapai US$ 462,1 juta, meningkat 6,8% YoY dibandingkan realisasi 2025 sebesar US$ 432,7 juta.

Sejalan dengan itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk diproyeksikan naik 18,7% secara tahunan menjadi US$ 163,4 juta pada 2026, dari US$ 137,7 juta pada 2025.

Rekomendasi sahamnya, Abida merekomendasikan buy saham PGEO dengan target harga yang dinaikkan menjadi Rp 1.300 per saham dari sebelumnya Rp 1.250 per saham.

Kemudian Wafi memberikan rekomendasi untuk hold saham PGEO dengan target harga Rp 1.065 per saham. Ada pun Jeremy merekomendasikan kepada investor untuk buy PGEO dengan target Rp 1.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×