Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah WTI turun setelah adanya jeda serangan antara Amerika Serikat (AS) – Iran. Mengutip Bloomberg, Senin (27/7/2026) pukul 1518 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2026 di New York Mercantile Exchange ada di level US$ 84,18 per barel, anjlok 5,74% dibanding akhir pekan lalu.
Girta Putra Yoga, Research and Development ICDX mengatakan, harga minyak mentah yang terpantau bergerak bearish dipicu oleh meningkatnya harapan akan meredanya ketegangan konflik AS – Iran. Hal ini setelah kedua belah pihak saling melakukan jeda serangan selama dua hari berturut-turut.
“Meski demikian, lalu lintas di jalur pengiriman utama Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang masih sepi, dan eskalasi ketegangan antara Iran dengan Ukraina berpotensi mendorong harga kembali bullish,” ujar Yoga kepada Kontan, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,26% ke Rp 18.009 per Dolar AS pada Senin (27/7)
Yoga melihat bahwa Iran akan menghentikan serangannya sendiri selama AS juga mempertahankan jeda serangannya. Hal tersebut menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang pada Jumat malam secara tiba-tiba membatalkan kampanye pengeboman terhadap Iran, yang sekaligus menjadikan hari Sabtu dan Minggu sebagai dua hari jeda setelah 13 malam serangan udara AS yang intensif.
“Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz juga mengatakan bahwa Trump telah memutuskan untuk menghentikan sementara serangan AS untuk memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi,” kata Yoga.
Yoga menambahkan, isyarat meredanya ketegangan antara AS - Iran juga semakin menguat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teheran, Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa pembicaraan terkait pengelolaan Selat Hormuz dengan delegasi Oman pada tanggal 24 dan 25 Juli berlangsung konstruktif dan beberapa kemajuan telah dicapai.
Meskipun AS dan Iran telah saling menghentikan serangan, namun jumlah kapal yang melalui Selat Hormuz masih kurang dari 10 kapal setiap hari selama akhir pekan, ungkap data pengiriman dari Kpler. Selain itu, lalu lintas kapal yang melalui Selat Bab el-Mandeb melambat setelah serangan Houthi terhadap instalasi minyak Saudi di sepanjang pantai Laut Merah dan pengumuman blokade angkatan laut mereka terhadap Arab Saudi. Hanya sebelas kapal yang melalui Selat Bab el-Mandeb pada hari Minggu, yang sekaligus merupakan level terendah dalam beberapa bulan.
Selain itu, Yoga menyebut dukungan lain yang menggerakkan harga minyak mentah datang dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Araghci memberikan peringatan keras terhadap Ukraina yang baru-baru ini melancarkan serangan jarak jauh di Laut Kaspia. Sebab Ukraina menargetkan kapal-kapal yang mengangkut kargo militer yang melibatkan Iran.
Baca Juga: Lelang Frekuensi 700 MHz Rampung, MTEL hingga TBIG Siap Panen Peluang
“Araghchi juga mengancam akan membalas serangan Ukraina tersebut sekaligus mengisyaratkan potensi konflik baru antara Iran dengan Ukraina,” terang Yoga.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan harga minyak ke depan masih akan dipengaruhi eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Ia bilang, perang di Timur Tengah berpotensi meluas. Pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas yang terkait dengan Saudi Aramco di pelabuhan Laut Merah Jizan dan Yanbu selama akhir pekan. Harga minyak telah melonjak sekitar 40% dalam sebulan karena gangguan pasokan meluas dari Selat Hormuz ke Laut Merah, rute alternatif yang semakin penting untuk ekspor minyak mentah Arab Saudi yang mengangkut jutaan barel setiap hari.
“Walaupun AS – Iran ada jeda henti untuk perang, tetapi Iran sendiri terus bersiaga, ada ketakutan AS melakukan serangan sporadis kembali. Geopolitik ini berpengaruh terhadap kenaikan harga minyak mentah,” ujar Ibrahim.
Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah WTI hingga akhir kuartal III – 2026 mencapai US$ 105,70 per barel. Sementara Yoga melihat harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 88 per barel dan support terdekat di level US$ 83 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














