kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Begini Prospek Emiten BUMN Karya yang Tengah Gencar Divestasi Aset


Selasa, 02 Desember 2025 / 09:29 WIB
Begini Prospek Emiten BUMN Karya yang Tengah Gencar Divestasi Aset
ILUSTRASI. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) tetap berkomitmen dalam menerapkan perlindungan pegawai, vendor, pemasok, stakeholder lainnya dan kegiatan operasional dengan terus melakukan peningkatan penerapan protokol kesehatan. Emiten BUMN Karya masif divestasi aset non-inti demi perbaikan keuangan & likuiditas jelang merger 2026. Simak dampaknya pada kinerja.


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

Di sisi lain, sentimen negatif yang masih membayangi adalah beban utang tinggi, bunga mahal, margin konstruksi yang masih tipis, dan potensi keterlambatan implementasi merger. Selain itu, pelepasan aset menghasilkan trade-off berupa berkurangnya pendapatan berulang.

“Bila kondisi makro seperti suku bunga dan pertumbuhan ekonomi melemah, BUMN Karya masih berpotensi menghadapi tekanan pada kinerja 2025 sebelum pulih lebih penuh pada 2026,” ungkapnya.

Untuk mempercepat pemulihan, Arinda bilang, BUMN Karya perlu melanjutkan akselerasi divestasi aset non-inti dan mengutamakan penggunaannya bagi deleverage agar rasio utang segera membaik.

Selain itu, optimalisasi portofolio proyek dengan fokus pada kontrak inti yang marjin-nya lebih baik akan memperbaiki profitabilitas. Restrukturisasi utang secara lebih agresif, peningkatan efisiensi biaya proyek, serta transparansi penggunaan dana sangat krusial untuk mengembalikan kepercayaan pasar.

“Kerja sama aliansi atau joint venture (JV) dengan swasta, terutama untuk proyek yang membutuhkan pendanaan besar, dapat menambah backlog tanpa memperbesar beban modal,” ungkapnya.

Baca Juga: WIKA Gedung (WEGE) Angkat Suara Terkait Gugatan PKPU

Dilihat dari fundamental dan kualitas aset, PTPP berpotensi menjadi yang paling stabil sepanjang periode 2025-2026 karena portofolionya lebih beragam dan strategi “back to core” memberi arah yang jelas.

WIKA dan entitas grupnya berpeluang membaik bila konsolidasi BUMN Karya berjalan efektif pada 2026. Sementara, WSKT menawarkan potensi rebound besar namun dengan risiko tertinggi mengingat tekanan utang yang lebih berat meskipun mendapatkan kas besar dari divestasi tol.

“WEGE berpotensi membaik secara bertahap, tetapi skala kecil membuat dampaknya tidak setajam emiten induknya,” tuturnya.

Arinda pun menyarankan investor untuk memerhatikan PTPP dengan target harga Rp 580 per saham.

Selanjutnya: Kementerian ESDM: Pembahasan Pengadaan BBM Shell–Pertamina Masih di Tingkat Petinggi

Menarik Dibaca: Naik Lagi, Simak Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 2 Desember 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×