kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.008,41   -2,46   -0.24%
  • EMAS1.131.000 0,27%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Baru Listing Maret, Sumber Tani (STAA) Bakal Bagikan Dividen Tunai Rp 109 Miliar


Sabtu, 16 Juli 2022 / 14:57 WIB
Baru Listing Maret, Sumber Tani (STAA) Bakal Bagikan Dividen Tunai Rp 109 Miliar
ILUSTRASI. Perkebunan kelapa sawit?PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA).


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten perkebunan kelapa sawit yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA) atau STA Resources menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sekaligus Paparan Publik (Public Expose) secara daring pada Jumat, 15 Juli 2022.

Sejumlah agenda penting disetujui di antaranya pengesahan Laporan Tahunan Tahun Buku 2021 dan penetapan penggunaan laba bersih Tahun Buku 2021 yang senilai Rp 1.08 triliun. 

Para pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 359,03 miliar. Dividen ini terdiri dari Rp 250 miliar sebagai dividen interim yang sudah dibagikan kepada para pemegang saham sebelum perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dan Rp 109,03 miliar atau setara dengan Rp 10 per lembar saham yang dibagikan sebagai dividen tunai. 

Mosfly Ang, Direktur Utama STA Resources, mengatakan perseroan memang berkomitmen akan membagikan dividen kepada para pemegang saham sesuai dengan komitmen saat perusahaan memutuskan untuk listing di BEI. Saham STAA pertama kali resmi tercatat (listing) di papan perdagangan BEI pada 10 Maret 2022. Selain itu, perseroan juga berkomitmen untuk membagikan dividen sebesar 30% DPR di tahun mendatang.

Baca Juga: Membedah Kantong Produsen Tepung Cerestar Indonesia (TRGU)

“Setelah IPO, kami berencana membagikan dividen kas kepada pemegang saham di kisaran 30% dari laba bersih dengan tidak mengabaikan tingkat kesehatan keuangan kami dan tanpa mengurangi hak dari RUPS untuk menentukan lain sesuai dengan anggaran dasar perseroan,” jelas dia dalam keterangannya, Sabtu (16/7).

Adapun dari laba bersih 2021, akan dialokasikan Rp 218,07 miliar untuk dana cadangan wajib perusahaan dan sisa dana yang belum ditentukan penggunaannya akan ditetapkan sebagai laba ditahan untuk menambah modal kerja perusahaan.

Tahun lalu, perseroan berhasil membukukan penjualan neto Rp 5,88 triliun, naik 39,96% dari penjualan neto tahun 2020 Rp 4,20 triliun. Dari penjualan tersebut, laba periode tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,08 triliun, meroket 162,72% dari Rp 410,03 miliar di tahun 2020.

Di sisi lain, dalam RUPST tersebut juga disampaikan laporan realisasi penggunaan dana bersih hasil IPO sebesar Rp 526,69 miliar. Per Juni 2022, dana IPO sudah dipakai untuk pembangunan refinery Rp 1,48 miliar, pembangunan fasilitas dermaga Rp 304 juta dan tangki timbun Rp 25,50 juta. Jadi, dana IPO baru terpakai Rp 1,81 miliar dan tersisa Rp 524,88 miliar yang belum digunakan.

Prospek Bisnis 2022
Mosfly menjelaskan, tahun lalu kondisi usaha di seluruh dunia belum normal akibat kasus Covid-19. Namun di tengah ketidakpastian itu, perseroan mampu membukukan kenaikan kinerja yang signifikan seiring dengan naiknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai produk utama perseroan di pasar dunia.

Tahun 2021, perseroan berhasil menjual 574.539 ton produk, meliputi minyak sawit, minyak inti sawit, Tandan Buah Segar (TBS), inti sawit, bungkil sawit dan ampas sawit. Namun jumlah volume penjualan itu turun tipis 4,73% dari tahun 2020 sebesar 603.051 ton.

Baca Juga: Begini Jurus Bintang Samudera Mandiri (BSML) untuk Menggenjot Pangsa Pasar

Menurut dia, pencapaian kinerja perseroan sangat diuntungkan dengan harga CPO di pasar internasional yang pernah mencatat level tertinggi dalam sejarah Indonesia yaitu US$1.435/ton di CIF Rottterdam dan MYR 5.400/ton di Malaysian Derivatives Exchange (MDEX).

Mosfly meyakini prospek sawit sangat menjanjikan, apalagi produk CPO dan turunannya masih menjadi komoditas unggulan penyumbang devisa Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bahkan mengungkapkan nilai ekspor CPO menembus US$35 miliar di 2021, naik 52,8% dari US$22,9 miliar di 2020. 

“Harga CPO juga akan tetap menguat dengan dimulainya kembali program Biodiesel 35 (B35) Indonesia atau B40 sesuai kebijakan pemerintah ke depan,” katanya.

Sebab itu, perseroan akan fokus mengembangkan hilirisasi sehingga memberikan nilai tambah dari produk baru dan terjadi diversifikasi basis pelanggan. 

“Kami telah melakukan hilirisasi usaha ke industri Pabrik Pengolahan Inti Sawit, Pabrik Ekstraksi Ampas Inti Sawit dan juga segera membangun industri Pabrik Minyak Goreng,” lanjut dia.

Di bidang pemasaran, STAA akan meningkatkan kinerja bisnis hulu (upstream) dan ekspansi di bisnis hilir (downstream) melalui pembangunan refinery berkapasitas 2.000 MT CPO/hari, bersamaan dengan pembangunan fasilitas dermaga dan tangki timbun berkapasitas 35.000 MT akan selesai pada Oktober 2023.

Direktur Keuangan STAA Lim Chi Yin mengungkapkan kinerja kuartal I-2022 (Q1) sangat positif dengan pendapatan Rp 1,63 triliun, naik 44,24% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,13 triliun. Laba bersih diraih Rp 432,39 miliar, melesat 155% dari tahun sebelumnya Rp 169,67 miliar. Dengan kinerja yang kuat, STAA juga meringankan tingkat hutangnya dengan pelunasan sebesar Rp 117,00 miliar kepada Bank Mandiri. 

Baca Juga: Masih Kantongi Kerugian Tahun Lalu, Eka Sari Lorena (LRNA) Absen Bagikan Deviden

“Aset kami solid Rp 7 triliun dengan kewajiban Rp 2,83 triliun, ekuitas Rp 4,17 triliun sehingga rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio [DER] kami terjaga di level 0,67 kali,” ungkap Lim.

Penjualan terbesar di Q1-2022 masih dari produk minyak sawit Rp 1,31 triliun atau 80,36% dari total pendapatan. Sementara sisanya disumbang inti sawit, lalu TBS, bungkil sawit dan ampas sawit. Penjualan ke pasar lokal dominan mencapai Rp 1,61 triliun, sisanya Rp 22,54 miliar untuk ekspor.

Dia mengatakan bisnis CPO berpotensi besar dapat menguntungkan produsen karena margin laba yang besar, permintaan internasional yang tinggi diikuti dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia sebesar 9,6 miliar pada tahun 2050, lalu tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibanding minyak nabati yang lain, dan gencarnya kampanye penggunaan biofuel secara global.

“Sejumlah faktor tersebut diiringi dengan harapan membaiknya perekonomian Indonesia dan upaya pemerintah mengatasi pandemi. Kami optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja yang stabil di masa mendatang,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×