Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX) resmi menunda rencana penerbitan bursa berjangka timah. Langkah tersebut terpaksa diambil lantaran banyaknya tantangan yang masih dihadapi, termasuk angka permintaan yang masih lesu.
Sekedar mengingatkan, awal Maret 2019 Presiden Direktur PT ICDX Logistik Berikat Petrus Tjandra mengatakan bahwa dalam waktu dekat pihaknya berencana untuk memperdagangkan timah dalam kontrak futures atau berjangka. Estimasinya kala itu sekitar tiga bulan atau sekitar Juni 2019 paling cepat.
Baca Juga: Jadi jawara indeks sektoral sepekan, begini rekomendasi saham perkebunan
Sayangnya, sampai saat ini kontrak berjangka timah masih belum hadir juga di bursa Tanah Air. Pengembangan Produk Research & Development ICDX Yoga mengatakan bahwa untuk sementara rencana ICDX untuk meluncurkan transaksi berjangka ditunda.
"Secara resmi ditunda dulu, padahal banyak pembeli yang menyatakan tertarik kalau timah sampai ditransaksikan lewat futures," kata Yoga saat ditemui di kantor ICDX Jakarta, Selasa (5/11).
Adapun pengganjal ICDX untuk menerbitkan timah futures, karena kondisi Pusat Logistik Berikat (PLB) yang kurang likuid. Sejatinya, untuk bisa menerbitkan futures, perusahaan perlu memiliki simpanan timah yang mencukupi dan aktif ditransaksikan seperti yang dimiliki London Metal Exchange (LME).
Ditambah lagi, sejak dua bulan terakhir PLB milik ICDX terpaksa dibekukan lantaran tidak terjadi transaksi selama 6 bulan terakhir atau sejak April 2019. Jika kondisi tersebut terus berlangsung hingga 12 bulan, ada alamat izin PLB ICDX dihapuskan dan perlu mengulang proses perizinan dari awal.
Baca Juga: Pendapatan Bumi Resources Minerals (BRMS) akan ditopang penjualan emas mulai 2020
Tak berhenti sampai di sana tantangan ICDX, Yoga menjelaskan sejak awal tahun harga timah di pasar global cenderung mengalami penurunan, ditambah lagi angka permintaan timah juga cenderung turun. Alhasil volume transaksi ikut menipis di tahun ini.
Mengutip Bloomberg, sepanjang 2019 harga timah global tercatat koreksi sebanyak 15,51% year to date (ytd). Pada perdagangan Selasa (5/11) harga tercatat berada di level US$ 16.455 per metrik ton.
"Sepanjang 2019, kira-kira penurunan transaksi timah di pasar ICDX turun sekitar 40% per Oktober, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harapannya di kuartal II dan kuartal III harga bisa kembali mengalami perbaikan khususnya dari sisi permintaan," ungkapnya.
Hingga akhir 2019, ICDX mempredikisi volume transaksi masih stabil meskipun masih dalam kecenderungan turun. Apalagi tahun ini terjadi pengurangan produksi dari PT Timah sekitar 2.000 hingga 2.500 ton yang bertujuan untuk memantik kenaikan harga.
Yoga mengakui, meskipun transaksi Timah lebih banyak dilakukan di "tetangga sebelah" namun tidak menutup kemungkinan bagi ICDX untuk dorong pertumbuhan transaksi lewat trader lainnya.
Baca Juga: Harga minyak terkoreksi di tengah tren kenaikan
"Saat ini terdapat 38 smelter atau trader timah, salah satunya PT Timah yang berkontribusi 30% terhadap total volume. Kami juga memiliki keep 2-3 smelter besar yang membuat kami tetap optimistis untuk transaksi ke depan, harapannya Q2 dan Q3 ada perbaikan," jelasnya.
Direktur PT Refined Bangka Tin (RBT) Reza Andriansyah saat ditemui di Bangka pekan lalu mengaku meskipun menjadi anggota di ICDX dan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), transaksi perdagangan justru lebih banyak dilakukan di BBJ. Menurutnya, ketimbang ICDX transaksi di BBJ jauh lebih efisien dan user friendly.
"Platformnya lebih mudah diakses, transparan dan web based. Bahkan trading lewat ponsel pun sudah bisa dilakukan, dan ada laporan hariannya. Jadi lebih efisien dan user friendly," ungkap Reza.
Di sisi lain, merosotnya harga global timah tahun ini diakui RBT bakal berdampak bagi kinerja perusahaan, baik terhadap volume produksi hingga margin. Dengan pemangkasan produksi timah tahun ini, Reza memprediksi target produksi akhir tahun bakal turun sekitar 2.500 ton hingga 3.000 ton per tahun, dari capaian produksi akhir 2019 sebanyak 6.000 ton. Begitu juga dampak ke margin yang diperkirakan bakal turun 0,5% hingga 1%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)