kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.014,65   8,27   0.82%
  • EMAS955.000 1,06%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Asing Terus Cabut dari Pasar SUN, Apa Penyebabnya?


Rabu, 29 Juni 2022 / 16:02 WIB
Asing Terus Cabut dari Pasar SUN, Apa Penyebabnya?
ILUSTRASI. Tren keluarnya aliran dana asing dari pasar surat utang negara (SUN) atau surat berharga negara (SBN) masih terus berlanjut.


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren keluarnya aliran dana asing dari pasar surat utang negara (SUN) atau surat berharga negara (SBN) masih terus berlanjut. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), pada 28 Juni 2022 total kepemilikan investor asing pada SBN mencapai Rp 780,56 triliun.

Sebagai perbandingan pada akhir Mei 2022, jumlah kepemilikan asing di SBN masih sebesar Rp 795,73 triliun. Artinya, sampai 28 Juni, ada outflow sebesar Rp 15,17 triliun. Alhasil, porsi kepemilikan investor asing di SBN pun juga turun dari Mei 2022 sebesar 16,56% menjadi 16,18% di bulan Juni 2022.

Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, penurunan dana asing di SBN ini dipicu kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS). Ini membuat investor asing mengalihkan dana baik switching ke saham atau kembali ke AS.

"Tren kenaikan suku bunga di AS membuat sebagian investor asing memilih pindah," ucap Wawan kepada Kontan.co.id, Rabu (29/6).

Baca Juga: Suku Bunga Global Naik, CDS Indonesia Ikut Terkerek di Sebulan Terakhir

Wawan menambahkan, SBN saat ini masih kurang menarik untuk investor asing. Sementara bagi investor domestik SBN masih menarik karena yield yang ada sudah di atas 7%.

Dalam jangka pendek, pasar obligasi masih akan terus dibayangi tekanan inflasi dan rencana kenaikan suku bunga. Sehingga diprediksi investor belum akan agresif untuk masuk ke pasar obligasi.

Menurut Wawan, investor asing sendiri biasanya tertarik masuk ke Indonesia kalau selisih yield SUN dengan US Treasury lebih dari 5%.

"Saat ini, spread-nya 4%, karena indonesia belum menaikkan suku bunganya," ujar Wawan.

Wawan mengatakan, Indonesia sedang dalam proses pemulihan ekonomi dan data-data makro mendukung untuk itu. Lalu surplus perdagangan juga tinggi sehingga belum penting bagi pemerintah menambah utang melalui penerbitan SUN dengan yield yang tinggi.

Baca Juga: Ini Penyebab Utang Pemerintah Menyusut Per Mei 2022

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×