Reporter: Veri Nurhansyah Tragistina | Editor: Avanty Nurdiana
JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjalin kerjasama dengan Direct Nickel Pty. Ltd. (DNi), perusahaan ekstraksi nikel asal Australia. Kerjasama ini untuk membangun dan mengembangkan pabrik pengolahan nikel laterit menggunakan teknologi proses DNi.
Russell Debney, Chief Executive Officer DNi bilang, sebagai tahap awal, mereka akan membangun pabrik berkapasitas produksi 10.000-15.000 ton nikel per tahun. Lokasi pabrik di Pomalla (Sulawesi Tenggara) dan Pulau Buli (Maluku). "Untuk membangun pabrik itu, dibutuhkan investasi US$ 400 juta-US$ 500 juta," kata Russel, Senin (22/7).
Namun, menurut Tato Miraza, Direktur Utama Antam, skema kerjasama maupun porsi saham belum ditentukan. Pembangunan pabrik akan didahului beberapa kerjasama terutama operasi pengujian pabrik (test plant) milik DNi di Perth, Australia.
ANTM menyumbang 200 nikel laterit untuk diolah menjadi nickel mixed hydroxide di pabrik DNi. "Jika hasil test plant bagus, baru kami membicarakan lebih serius pembangunan pabrik itu," jelas Tato. Uji operasi di pabrik DNi diharap selesai pertengahan November 2013, sehingga bisa mulai konstruksi pabrik di 2014.
Jika lancar, Antam dan DNi bisa memulai uji coba produksi pabrik baru di awal 2015. "Pabrik akan beroperasi optimum di sekitar tahun 2016-2017," jelas Russel.
Selain itu, DNi juga bisa membangun pabrik kedua dengan kapasitas yang lebih besar, yakni minimal 50.000 ton per tahun. Strategis kerjasama ini untuk mengamankan pasokan nikel dalam jangka 20 tahun-30 tahun ke depan. "Sumberdaya tetap milik Kami, nilai lebihnya ada kerjasama pengembangan teknologi agar bisa lebih efisien," jelas Tato.
Namun, manajemen ANTM belum menghitung dampak kerjasama pada kinerja. Djaja Tambunan, Direktur Keuangan Antam bilang, masih terlalu dini menghitung prospek pertumbuhan pendapatan maupun beban Antam.
Sebab, Antam baru mengucurkan investasi di 2014 atau 2015. Untuk pendanaan, ANTM masih bisa menerbitkan obligasi Rp 1 triliun sisa dari obligasi berkelanjutan. ANTM juga bisa menerbitkan saham baru alias rights issue. Senin (22/7), harga ANTM naik 9,32% ke Rp 1.290.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News