kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Investor Asia Sudah Overweight AI, HSBC Nilai Rotasi ke Pasar Lain Mulai Terbuka


Senin, 12 Januari 2026 / 16:20 WIB
Investor Asia Sudah Overweight AI, HSBC Nilai Rotasi ke Pasar Lain Mulai Terbuka
ILUSTRASI. Nikkei-stock-index-closes-at-record-high (Kyodo/via REUTERS)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. HSBC Global Research menilai ruang kenaikan saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI) di Asia mulai terbatas. Posisi investor yang sudah sangat overweight membuat peluang rotasi ke pasar lain semakin besar memasuki 2026.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, mengatakan euforia AI di pasar seperti Taiwan dan Korea sudah berada di titik jenuh.

“Di Taiwan, semua analis bicara soal AI. Buy side juga sama positifnya. Situasi seperti ini jarang sekali terjadi dalam 25 sampai 30 tahun terakhir,” ujar Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).

Baca Juga: Kekhawatiran Independensi The Fed, Rupiah Melemah ke Rp 16.855 per Dolar AS

Ia menambahkan, posisi portofolio investor sudah sangat agresif di saham semiconductor dan hardware yang menjadi tulang punggung tren AI. Dengan kondisi seperti itu, ruang kenaikan tambahan menjadi makin terbatas.

Memasuki paruh kedua 2026, Herald memperkirakan investor global akan mulai melirik peluang di luar Taiwan dan Korea. “Eksposur AI mereka sudah besar. Pertanyaan berikutnya tentu: cerita apa lagi yang menarik di kawasan ini?” ujarnya.

HSBC melihat ada dua area yang berpotensi menjadi tujuan rotasi. Pertama, China yang mulai menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri rumah tangga untuk kembali masuk pasar saham. Kedua, negara dengan prospek pertumbuhan laba yang lebih baik seperti India dan Indonesia.

“Indonesia dan India punya cerita pemulihan laba yang lebih solid. Valuasinya juga masih murah, jadi menarik untuk investor yang ingin diversifikasi di luar teknologi,” kata Herald.

HSBC menilai tema rotasi sektor dan negara akan cukup dominan tahun depan. Meski begitu, arah arus dana global, pergerakan dolar AS, dan realisasi pertumbuhan laba tetap akan menentukan seberapa cepat rotasi tersebut berjalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×