Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 6 triliun pada 2026 untuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV battery) dan bisnis emas.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira menjelaskan, alokasi modal menjadi salah satu fokus utama manajemen untuk menjaga pertumbuhan ANTM. Di mana, investasi dilakukan secara bertahap menyesuaikan kesiapan proyek.
“Untuk 2026, kebutuhan capex kami kurang lebih sekitar Rp 6 triliun, dengan porsi cukup besar terkait rantai baterai kendaraan listrik dan juga emas. Dua kontributor utama dari pertumbuhan laba kami,” jelasnya dalam paparan Kontan, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Mengapa IHSG Tumbang pada Hari Ini, Kamis (10/9)?
Arini menjelaskan realisasi investasi untuk proyek pengembangan akan disesuaikan dengan kesiapan proyek, perizinan, struktur pendanaan, serta aspek keekonomian. ANTM juga mempertimbangkan tingkat pengembalian investasi sebelum mengeksekusi proyek.
“Setiap investasi, kami selalu evaluasi berdasarkan berbagai indikator mulai cash flow hingga value creatio serta pertumbuhan tidak hanya mengejar skala, tapi juga mengejar return yang sehat bagi pemegang saham,” tuturnya. .
Untuk bisnis emas, ANTM tengah mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 30 ton emas per tahun atau hingga lima juta keping produk dengan kadar 99,99%.
Proyek manufaktur logam mulia Gresik saat ini berada dalam tahap pra-konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028. Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar domestik.
Baca Juga: Rukun Raharja (RAJA) Siapkan Lima Proyek Strategis, Bidik Ekspansi Bisnis Energi
Sementara itu, pada bisnis nikel, ANTM terus mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. Salah satu proyek utamanya adalah pengembangan high pressure acid leach (HPAL) di Buli, Halmahera Timur.
ANTM memiliki 30% kepemilikan dalam proyek HPAL bersama konsorsium CBL. Proyek tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 55.000–60.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun, dengan nilai investasi sekitar US$ 1,9 miliar.
Selain HPAL, ANTM mengembangkan, proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di Buli dengan kepemilikan 40%. Proyek tersebut mencakup delapan lini RKEF dan kawasan industri, dengan kapasitas sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.
Nilai investasi proyek RKEF diperkirakan mencapai US$ 1,4 miliar dan pengembangannya ditargetkan berlangsung hingga 2027. Saat ini, proyek masih berada dalam tahap persiapan sebelum masuk konstruksi penuh.
Arini menegaskan, ANTM tidak sekadar mengejar pembangunan proyek, tetapi akan mengevaluasi keekonomian setiap investasi mengikuti perubahan kondisi pasar. Evaluasi mencakup harga komoditas, biaya bahan baku, biaya operasi, regulasi, serta kondisi pasokan dan permintaan.
“Kebutuhan investasi tidak semata-mata berdasarkan target untuk hanya bangun-bangun proyek saja, tapi berdasarkan kemampuan proyek tersebut menghasilkan return yang optimal dan berkelanjutan bagi kami,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














