kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Analis: Saham konstruksi masih layak dikoleksi untuk jangka panjang


Selasa, 23 Oktober 2018 / 21:11 WIB
ILUSTRASI.


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus kas memang sempat menjadi sorotan. Namun, belum pulihnya peforma saham emiten konstruksi terutama pelat merah bukan berarti menunjukan fundamentalnya berada di ujung tanduk.

Maxi Liesyaputra, analis BNI Sekuritas mengatakan, masih loyonya saham emiten konstruksi lebih ke soal likuiditas. "Jika kapitalisasi pasar sektor konstruksi dijumlah hingga dengan anak usaha, totalnya hanya sekitar 1% dari total kapitalisasi pasar IHSG," jelas Maxi, Selasa (23/10).

Sehingga, likuiditas yang masih terbatas itu membuat investor agak sulit untuk kembali masuk. Ini yang menjadi alasan performa saham-saham tersebut belum pulih meski sentimen arus kas sudah mulai pudar.

Maxi menambahkan, ini justru menjadi peluang. Terlebih, valuasi keempat saham itu sudah murah. "Tapi, lebih untuk investasi jangka panjang, bukan trading," imbuhnya.

Rendy Wijaya, analis Phintraco Sekuritas optimistis, fundamental emiten konstruksi masih kuat. Masih banyak infrastruktur yang perlu dibangun di Indonesia.

"Memasuki 2019 akan kembali bergeliat," kata Rendy.

Dia merekomendasikan buy saham WSBP, WSKT, WIKA dan JSMR. Target harganya masing-masing Rp 430, Rp 2.000, Rp 1.550 dan Rp 5.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×