Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto
Sebagai perbandingan, emiten properti lain seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) juga memiliki cadangan lahan yang besar, meskipun sebagian pengembangannya berasal dari proyek reklamasi.
Sementara itu, BSDE telah lama memiliki land bank yang tersebar di kawasan BSD dan sekitarnya.
Dari sisi permintaan, sektor properti nasional saat ini juga masih ditopang oleh konsumen kelas menengah atas. Segmen ini dinilai relatif lebih tahan terhadap dinamika makroekonomi seperti tingginya suku bunga maupun ketidakpastian geopolitik global.
Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa faktor suku bunga tetap menjadi variabel penting bagi sektor properti. Harapan terhadap potensi penurunan suku bunga ke depan dapat menjadi katalis tambahan bagi penjualan properti.
Baca Juga: Layak Dicermati! Harga Melemah, Saham Blue Chip Bank Ini Akan Bagi Dividen 3x Di 2026
Namun peluang tersebut masih bergantung pada perkembangan inflasi. Ia mencatat inflasi domestik sempat berada di kisaran 4,76%, atau di atas batas atas target inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Selain itu, dinamika permintaan musiman seperti peningkatan konsumsi selama Ramadan juga dapat memengaruhi pergerakan inflasi. Di sisi lain, perkembangan geopolitik global juga berpotensi memengaruhi sentimen terhadap sektor properti.
Terlepas dari berbagai faktor tersebut, Nafan menilai prospek BSDE masih cukup solid sepanjang tahun ini. Ketahanan permintaan dari segmen kelas atas serta peluang perpanjangan insentif PPN DTP dapat menjadi katalis positif bagi pencapaian target prapenjualan perseroan.
“Permintaan dari segmen kelas atas masih relatif resilient, sehingga dapat menopang kinerja penjualan properti,” tambahnya.
Untuk itu, Nafan memberikan rekomendasi accumulative buy untuk saham BSDE dengan target harga di level Rp 1.215 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













