Reporter: Dyah Ayu Kusumaningtyas | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan indeks baru bernama IDX 30 pada awal pekan lalu (23/4). Namun, fungsi dan kelayakan saham-saham yang masuk dalam deretan IDX30 itu dipertanyakan sebagian kalangan.
Sebelumnya, manajemen BEI telah menjelaskan, kriteria saham-saham yang layak masuk ke dalam indeks baru tersebut. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito memastikan, saham-saham yang dipilih BEI merupakan golongan yang terbaik dari Indeks LQ45.
Pemilihan saham-saham tersebut dilihat dari beberapa kriteria, seperti kapitalisasi pasar atau market cap, likuiditasnya, kepemilikan publik dan juga fundamental dari masing-masing emiten. "Indeks IDX 30 hampir mirip dengan LQ45, dan merupakan 30 terbaik dari 45 saham-saham di LQ45. Walaupun ada perbedaan, perbedaannya tipis," jelasnya, Rabu (25/4).
Eddy menyebut, peluncuran IDX30 untuk memenuhi permintaan yang banyak dari investor asing, selain juga diversifikasi bagi para manajer Investasi (MI) untuk underlying asset reksadan. Setiap 6 bulan sekali akan dilakukan evaluasi untuk IDX 30, sama seperti Indeks LQ 45, sehingga ada potensi saham-saham yang ada di IDX 30 bisa berubah.
Namun, beberapa analis masih mempertanyakan komposisi ideal yang menjadi prasyarat saham-saham bisa masuk ke indeks baru tersebut.
Analis BNI Securities, Akhmad Nurcahyadi melihat pembentukan IDX 30 ini justru hanya sebagai diversifikasi bagi fund manager untuk menyemarakkan produk-produk reksadananya yang menggunakan underlying indeks.
"Sebenarnya, untuk apa menyusun lagi indeks benchmark baru, apalagi cenderung hampir sama dengan indeks sebelumnya, yaitu LQ45," sebut Akhmad.
Senada, Managing research Indosurya Asset Management Reza Priyambada juga menilai, belum ada kejelasan kriteria pada IDX 30. Menurutnya, jika melihat Jakarta Islamic Index (JII), tentunya sudah terlihat jelas, kriteria saham-saham apa saja yang sebenarnya masuk ke Indeks JII.
"Menurut saya, ada beberapa saham yang sebenarnya lebih pantas masuk ke IDX30, dibandingkan saham-saham yang diunggulkan di IDX 30 saat ini," ujarnya.
Reza mempertanyakan kelayakan beberapa saham yang saat ini masuk dalam deretan IDX 30, seperti saham ADRO, BORN, KRAS, BUMI juga ELTY. Dia bilang, saham-saham tersebut belakangan ini menduduki peringkat di atas 60 untuk kapitalisasinya dari total emiten di BEI. "Padahal ada beberapa saham yang lebih pantas diunggulkan untuk masuk saham-saham IDX 30, seperti AKRA," urainya.
Adapun soal prospek indeks baru ini, Akhmad belum bisa memprediksikannya. Dia hanya menyebut, jika memang kriterianya lebih unggul dibandingkan LQ45, tentu kinerjanya juga mestinya lebih tinggi dari LQ45.
Sementara Reza bilang, butuh waktu sekitar tiga bulan ke depan untuk bisa memastikan dan membandingkan tren kinerjanya dengan Indeks LQ45. Meski sebenarnya kinerja IDX 30 masih belum jelas, namun dia bilang, investor dapat mempergunakan IDX30 ini sebagai panduan untuk mengukur kinerja mereka dan referensi portfolio bagi para fund manajer.
Sebagai perbandingan, pada perdagangan Kamis (26/4) pukul 09.33 WIB, Indeks LQ 45 tercatat naik 3,395%, sedangkan IDX 30 hanya naik 1,75% atau separuh dari kenaikan LQ 45.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












