kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Analis: Indeks Kompas100 terdorong sektor konstruksi dan tambang


Senin, 25 Maret 2019 / 19:08 WIB

Analis: Indeks Kompas100 terdorong sektor konstruksi dan tambang

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga kini sudah ada 48 emiten penghuni indeks Kompas100 yang sudah melaporkan kinerja tahunan mereka. Sebanyak 39 emiten mencatatkan kinerja positif. Sisanya sebanyak sembilan emiten yang mencatat kinerja negatif di tahun 2018 lalu.

Adapun 10 saham dengan kinerja pertumbuhan laba paling moncer adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).


Sementara sembilan saham dengan pertumbuhan laba negatif adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), PT Indomobil Sukses International Tbk (IMAS) dan PT Indosat Tbk (ISAT).

ANTM tercatat sebagai emiten dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 542,65% year on year (yoy) dengan torehan laba bersih Rp 874 miliar. Sedangkan ISAT menjadi emiten dengan penurunan kinerja laba paling dalam yakni -310,53% yoy menjadi rugi Rp 2,40 triliun.

Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan berpendapat, jika melihat secara sektor, pertambangan memang mencatatkan pertumbuhan positif secara year to date (ytd). Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sektor tambang tumbuh 4,84% ytd, di atas indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 3,50% ytd.

“Dalam hal ini, ANTM yang membukukan kinerja baik di tahun 2018. Salah satu pemicunya adalah pergerakan harga komoditas yang dihasilkan,” ujar Valdy kepada Kontan.co.id, Senin (25/3).

Menurutnya, berdasarkan data, grafik harga emas dua tahun terakhir cenderung naik sepanjang Januari hingga September 2018, sebelum berbalik melemah di kuartal IV-2018 dan kembali menguat jelang akhir tahun.

Ini diikuti dengan harga nikel yang membaik. Salah satunya karena adanya penurunan persediaan. Selain itu, rata-rata emiten konstruksi BUMN pun mampu mencapai target kontrak baru di tahun 2018. Ini yang membuat sektor tersebut masih akan berpeluang menguat di tahun 2019 ini.


Reporter: Yoliawan H
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×