Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) kembali membayangi pasar keuangan global. Sikap The Fed yang kian hawkish diperkirakan memicu gejolak di pasar, sehingga investor dituntut lebih cermat dalam menyusun strategi investasi.
Dalam House View Update terbaru, Allianz Global Investors (AllianzGI) memproyeksikan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar total 50 basis poin pada paruh kedua 2026. Proyeksi ini didorong inflasi AS yang tetap bertahan di atas target, sehingga bank sentral diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan semula.
Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, kenaikan suku bunga AS berpotensi memicu volatilitas. AllianzGI Indonesia menilai suku bunga yang lebih tinggi akan memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan daya tarik aset-aset di Negeri Paman Sam. Kondisi ini dapat mendorong arus keluar modal asing dari pasar saham negara berkembang, meski hanya bersifat sementara.
Baca Juga: Suku Bunga Acuan Ditahan di 5,75% di Juli 2026, Akankah Terjadi Rotasi Sektor Saham?
Head of Equity AllianzGI Indonesia Octavius Prakarsa mengatakan, dampak jangka pendeknya dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama pada sektor dengan kepemilikan investor asing yang besar dan sektor yang sensitif terhadap likuiditas global.
"Namun, volatilitas akibat perubahan kebijakan The Fed umumnya hanya bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang pasar saham Indonesia," ujar Octavius dalam keterangannya dikutip Kamis (23/7/2026).
Octavius menilai Indonesia masih menjadi salah satu pasar berkembang yang menarik berkat ketahanan ekonomi domestik, inflasi yang terkendali, dan fundamental makroekonomi yang terus membaik sehingga mampu menjaga kepercayaan investor.
Di tengah ketidakpastian pasar, ia menilai investor perlu lebih selektif dengan berfokus pada perusahaan yang memiliki arus kas kuat, neraca sehat, pricing power tinggi, serta pertumbuhan laba berkelanjutan.
Baca Juga: Valuasi Murah Jadi Peluang, Berikut Strategi Investasi Saat Pasar Penuh Tekanan
Menurutnya, strategi active management semakin penting untuk mengidentifikasi emiten berfundamental kuat, adaptif terhadap perubahan siklus ekonomi, dan berpotensi menciptakan pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu, AllianzGI menilai Federal Reserve berpeluang kembali mengambil sikap lebih hawkish karena inflasi inti AS masih bertahan di atas target. Pada Mei 2026, inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) tercatat sebesar 3,4% secara tahunan, menunjukkan tekanan inflasi belum mereda meski suku bunga sudah berada di level tinggi.
Tim CIO AllianzGI juga menilai pasar sempat terlalu optimistis terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter setelah pergantian kepemimpinan The Fed. Namun, selama inflasi masih berada di atas target, bank sentral AS diperkirakan tetap memprioritaskan stabilitas harga melalui kebijakan moneter yang ketat.
Ke depan, AllianzGI memproyeksikan The Fed akan tetap mengedepankan pengendalian inflasi sebelum beralih ke agenda reformasi jangka panjang berbasis peningkatan produktivitas. Dengan pendekatan tersebut, suku bunga acuan AS diperkirakan masih berpotensi naik total 50 basis poin pada paruh kedua 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














