Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA, FTSE Russell pada 7 April 2026 resmi mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market dan menegaskan bahwa Indonesia tidak masuk dalam watch list penurunan peringkat.
Keputusan ini dinilai memperkuat kredibilitas reformasi pasar modal Indonesia di tengah tekanan sentimen global, termasuk isu terkait indeks MSCI.
Dalam pernyataan tersebut, FTSE Russell menegaskan bahwa Indonesia tetap berada di Secondary Emerging Market tanpa masuk daftar pantauan penurunan status. Keputusan ini sekaligus meredakan kekhawatiran investor terkait potensi keluarnya Indonesia dari kategori pasar berkembang.
Di sisi lain, pasar sempat bereaksi terhadap pengumuman High Shareholding Concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), yang memicu spekulasi tekanan jual pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar seperti BREN dan DSSA.
Baca Juga: FTSE Russell: Status Indonesia Tetap Secondary Emerging Market
Namun, reaksi tersebut dinilai sebagai respons psikologis jangka pendek yang belum sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar yang sebenarnya.
Secara fundamental, risiko likuiditas disebut lebih terkendali. Sejumlah faktor penyangga turut meredam potensi tekanan, di antaranya antisipasi investor aktif sejak awal April yang telah melakukan front-running sebelum rebalancing indeks MSCI berlangsung.
"Hal ini membuat sebagian tekanan jual dinilai sudah terserap lebih awal oleh pasar," tulis Henan Securitas seperti dikutip.
Selain itu, pada periode rebalancing, volume perdagangan biasanya meningkat 3–5 kali lipat dibanding kondisi normal. Kondisi ini membuat proses penyerapan lebih cepat, sementara transaksi institusi melalui block trade tidak banyak memengaruhi harga di pasar reguler.
Dari sisi pelaku pasar global, tercatat manajer aset besar seperti BlackRock terus menambah kepemilikan di BREN sejak awal 2024, mencerminkan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang sektor energi terbarukan di Indonesia.
Baca Juga: FTSE Soroti Pasar Indonesia, Dana Asing Berpeluang Keluar Lagi
Di dalam negeri, investor institusi dengan dana kelolaan besar juga diperkirakan siap menjadi penyeimbang likuiditas di pasar.
Secara fundamental, kinerja emiten disebut tetap solid. BREN melanjutkan ekspansi kapasitas menuju 1 GW melalui kontrak power purchase agreement jangka panjang, sementara DSSA ditopang posisi kas yang kuat serta pertumbuhan bisnis digital melalui MyRepublic.
Secara keseluruhan, keputusan FTSE Russell memperkuat pandangan bahwa fundamental pasar modal Indonesia tetap terjaga.
Tekanan yang terjadi di pasar lebih dipandang sebagai dinamika teknis ketimbang perubahan fundamental, seiring proses normalisasi menuju valuasi jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













