kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.809   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.317   40,42   0,64%
  • KOMPAS100 826   4,59   0,56%
  • LQ45 629   3,17   0,51%
  • ISSI 218   1,53   0,71%
  • IDX30 348   1,36   0,39%
  • IDXHIDIV20 433   -0,09   -0,02%
  • IDX80 94   0,53   0,56%
  • IDXV30 119   0,07   0,06%
  • IDXQ30 112   0,10   0,09%

Akuisisi Rp 6,91 Triliun, Siloam (SILO) Hadapi Risiko Leverage dan Beban Bunga


Rabu, 23 September 2026 / 11:49 WIB
Akuisisi Rp 6,91 Triliun, Siloam (SILO) Hadapi Risiko Leverage dan Beban Bunga
ILUSTRASI. Rencana PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengakuisisi 14 perusahaan membawa konsekuensi terhadap leverage dan beban bunga.(Dok./Siloam Hospitals Lippo Village)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengakuisisi 14 perusahaan dengan nilai transaksi sekitar Rp 6,91 triliun dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kepemilikan aset rumah sakit. Namun, ekspansi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap leverage dan beban bunga perseroan.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai dampak akuisisi tersebut cukup besar secara strategis, terutama terhadap profitabilitas dan kapasitas ekspansi SILO dalam jangka menengah hingga panjang.

“Dampaknya menurut saya cukup besar secara strategis, tetapi lebih terasa pada profitabilitas dan kapasitas ekspansi dibandingkan pertumbuhan pendapatan jangka pendek,” kata Thoriq kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Astra International (ASII) Baru Serap Capex Rp 17 Triliun, 42% dari Target Tahun Ini

SILO akan mengeluarkan sekitar Rp6,91 triliun untuk mengakuisisi 14 perusahaan tersebut. Transaksi terdiri atas delapan perusahaan senilai sekitar Rp4,08 triliun pada tahap pertama dan enam perusahaan sekitar Rp2,83 triliun pada tahap kedua.

Menurut Thoriq, nilai transaksi tersebut setara sekitar 67,6% dari ekuitas SILO per Maret 2026. Dengan demikian, akuisisi tersebut menjadi transformasi yang cukup besar terhadap struktur neraca perseroan.

“Keuntungannya adalah SILO tidak lagi sekadar menjadi operator dan penyewa, tetapi juga pemilik aset. Ini mengurangi ketergantungan pada kontrak sewa sekaligus memberi ruang lebih besar untuk renovasi, penambahan tempat tidur, pembangunan fasilitas medis dan optimalisasi utilisasi aset,” ujarnya.

Thoriq menilai aset yang akan diakuisisi juga memiliki peran penting terhadap bisnis SILO. Pada semester I 2026, Siloam Lippo Village membukukan pendapatan Rp815,1 miliar, MRCCC Rp 778,5 miliar dan Kebon Jeruk Rp 615,8 miliar. Ketiga rumah sakit tersebut menyumbang sekitar 33% dari pendapatan grup sebesar Rp 6,76 triliun.

Baca Juga: CDIA Segera Bagi Dividen Interim, Intip Profil Emiten & Kinerja Terbaru

Di sisi lain, pendanaan melalui kredit bank menjadi konsekuensi utama dari transaksi tersebut. Berdasarkan laporan proforma per 31 Maret 2026, penarikan utang bank jangka panjang diperkirakan bertambah sekitar Rp8,88 triliun.

“Akibatnya, total liabilitas naik dari sekitar Rp 5,29 triliun menjadi Rp 14,17 triliun, sementara total aset naik dari sekitar Rp 15,32 triliun menjadi Rp 23,91 triliun. Dengan angka tersebut, rasio total liabilities-to-equity secara sederhana naik dari sekitar 0,5 kali menjadi sekitar 1,35 kali,” jelas Thoriq.

Meski demikian, kenaikan utang tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan liabilitas secara bruto karena transaksi juga menghapus sebagian kewajiban sewa. Liabilitas sewa jangka pendek diperkirakan turun sekitar Rp448,6 miliar, sedangkan liabilitas sewa jangka panjang berkurang sekitar Rp20,8 miliar.

Thoriq menilai risiko ekspansi SILO berada pada level moderat hingga cukup tinggi dari sisi finansial, tetapi relatif lebih rendah dari sisi operasional. Pasalnya, SILO telah menjalankan rumah sakit yang menjadi bagian dari transaksi sehingga risiko integrasi dinilai lebih kecil.

“Risiko utamanya justru leverage, suku bunga dan kecepatan deleveraging,” katanya.

Menurut Thoriq, risiko tersebut perlu dicermati karena pinjaman SILO bersifat floating. Kenaikan suku bunga dapat langsung meningkatkan beban keuangan perseroan. Manajemen juga mengakui beban bunga pada fase awal akan cukup besar dan dapat menekan laba sebelum pajak.

Untuk mitigasi, SILO perlu mempercepat arus kas operasional, menjaga disiplin belanja modal, melakukan refinancing apabila biaya dana membaik, menjaga covenant dan secara bertahap menurunkan utang.

Thoriq menambahkan, SILO masih memiliki buffer dari sisi operasional. Pada semester I 2026, pendapatan SILO tumbuh 10,8% secara tahunan menjadi Rp6,76 triliun. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham meningkat sekitar 27% menjadi Rp580,7 miliar.

Terkait kontribusi akuisisi, Thoriq memperkirakan dampak akuntansi akan mulai terlihat setelah masing-masing transaksi selesai. Namun, kontribusi positif terhadap laba bersih kemungkinan baru lebih jelas setelah 2027.

“Untuk pendapatan, saya tidak mengharapkan lonjakan besar hanya akibat akuisisi karena rumah sakitnya sudah dikonsolidasikan sebagai operasi SILO. Yang berubah adalah struktur biaya dan aset,” ungkapnya.

Efek awal yang akan terlihat, lanjut dia, adalah hilangnya sebagian beban sewa, disusul tambahan depresiasi dan beban bunga. Karena itu, periode 2026 hingga 2027 diperkirakan menjadi masa transisi bagi SILO.

Jika seluruh transaksi selesai pada 2027, 2028 berpotensi menjadi tahun pertama ketika kontribusi penuh dari struktur kepemilikan baru dapat terlihat. Hal tersebut terutama apabila SILO mulai menambah kapasitas pada aset yang dibeli dan menurunkan tingkat leverage.

Untuk jangka menengah hingga panjang, Thoriq masih melihat prospek SILO positif. Katalisnya antara lain penghematan biaya sewa, ekspansi kapasitas rumah sakit yang sudah matang, peningkatan utilisasi tempat tidur dan fasilitas medis, pertumbuhan volume pasien serta potensi penurunan biaya utang.

“Akuisisi juga membuat strategi properti dan strategi klinis SILO lebih selaras karena perusahaan tidak lagi tergantung pada izin pemilik aset untuk melakukan ekspansi besar,” kata Thoriq.

Sementara itu, risiko yang perlu diperhatikan mencakup leverage tinggi, suku bunga floating, dilusi laba selama masa transisi, kebutuhan belanja modal tambahan setelah aset dimiliki, serta potensi pertumbuhan EBITDA yang tidak cukup cepat untuk mengimbangi kenaikan biaya pendanaan.

Tahap kedua akuisisi juga masih berkaitan dengan pelaksanaan put option terhadap enam perusahaan, sehingga waktu penyelesaian transaksi menjadi salah satu hal yang perlu dipantau.

Untuk saham, Thoriq memberikan rekomendasi speculative buy untuk SILO. Ia menetapkan area beli pada Rp2.090 hingga Rp2.110 per saham dengan target harga Rp2.150 hingga Rp2.220 per saham. Adapun batas risiko atau stop loss ditetapkan pada Rp1.990 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×