Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi demonstrasi di Jakarta pada Kamis (28/8/2025) memberi sentimen hati-hati bagi pasar keuangan.
Hal ini tercermin dari kenaikan tipis imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) serta meningkatnya risiko investasi Indonesia.
Berdasarkan data Trading Economics, yield SUN tenor 10 tahun pada Jumat (29/8/2025) berada di level 6,32%, naik tipis 0,02 poin dari perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: IHSG Turun 0,36% dalam Sepekan, Ini Saham yang Bisa Dicermati Pekan Depan
Sementara itu, mengutip Bloomberg, Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun Indonesia turut menguat ke level 67,726, atau naik 0,38% secara harian.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menilai, aksi unjuk rasa bisa memicu keluarnya dana asing dari pasar finansial.
Namun, ia menekankan bahwa dampaknya masih bersifat sementara selama demonstrasi tidak berkembang menjadi krisis politik berkepanjangan.
“Risiko akan meningkat apabila demo berkepanjangan sehingga mengganggu jalannya program fiskal, menekan cadangan devisa, atau memicu ketidakpastian kebijakan,” ujarnya kepada Kontan.co.id.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,53% ke 7.830 pada Jumat (29/8/2025), SCMA, TOWR, KLBF Top Losers LQ45
Rizal mengingatkan investor domestik untuk tetap waspada dengan disiplin manajemen risiko. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Menghindari obligasi dengan tenor terlalu panjang.
- Menyediakan cadangan dana tunai yang memadai.
- Memanfaatkan instrumen lindung nilai sederhana seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) atau Interest Rate Swap (IRS) guna melindungi portofolio dari gejolak rupiah.
Selain itu, rotasi portofolio ke obligasi korporasi dengan fundamental kuat juga bisa menjadi pilihan ketika spread melebar akibat panic selling.
Baca Juga: Demo Jakarta Guncang Pasar: Rupiah Melemah, IHSG Terkoreksi
Rizal juga menekankan pentingnya mencermati indikator pemicu aliran keluar dana asing, seperti pelemahan rupiah di atas Rp 16.600 per dolar AS, lonjakan CDS ke atas 85–90 bps, serta melemahnya bid-to-cover pada lelang SBN.
“Dengan strategi defensif sekaligus oportunistik, investor domestik bisa mengurangi potensi kerugian sekaligus memanfaatkan momen ketika pasar bereaksi berlebihan,” pungkas Rizal.
Selanjutnya: Profitabilitas Naik Signifikan, Begini Respons Bos Aneka Tambang (ANTM)
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (30/8), Waspada Hujan Lebat di Provinsi Berikut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News