kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Aksi Buyback Belum Mampu Mengungkit Performa Saham Emiten


Rabu, 01 Juli 2026 / 21:02 WIB
Aksi Buyback Belum Mampu Mengungkit Performa Saham Emiten
ILUSTRASI. GOTO, TLKM, BBCA menggelontorkan triliunan untuk buyback, namun harga saham stagnan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten dari berbagai sektor tercatat mengeksekusi aksi korporasi berupa pembelian saham kembali atau buyback saham.

Berdasarkan catatan Kontan, pelaksanaan buyback tersebut belum sepenuhnya mampu menggerakkan kinerja harga saham emiten. Mayoritas emiten yang telah mengeksekusi buyback masih mencatatkan pergerakan saham yang lesu, bahkan sebagian masih berada dalam tren pelemahan di tengah tekanan pasar.

Misalnya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Emiten teknologi ini mengalokasikan dana hingga Rp 3 triliun untuk program buyback yang berlangsung pada 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027. Meski program tersebut telah berjalan, harga saham GOTO masih bertahan di level Rp 50, sama seperti saat buyback mulai dieksekusi.

Kondisi serupa juga terlihat di PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Dengan alokasi buyback Rp 4 triliun untuk periode 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027, harga saham TLKM masih mengalami pelemahan.

Tengok saja, sebelum eksekusi buyback atau pada 8 Juni 2026, harga saham TLKM berada di level Rp 2.760 per saham, lalu terus menurun hingga penutupan perdagangan hari ini berada di posisi Rp 2.440.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Melemah Rabu (1/7), Ketegangan AS-Iran Bayangi Sentimen Pasar

Dari sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga belum menunjukkan respons harga saham yang signifikan setelah mengumumkan buyback.

BBCA mengalokasikan dana hingga Rp 5 triliun untuk program buyback yang berlangsung sejak 12 Maret 2026 hingga satu tahun ke depan. Meski demikian, pergerakan harga sahamnya belum mencerminkan dampak yang berarti dari aksi korporasi tersebut.

Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII), yang telah menyelesaikan periode buyback, juga belum mampu mencatatkan kinerja harga saham yang menggembirakan.

ASII mengalokasikan dana buyback hingga Rp 2 triliun, dengan realisasi pembelian kembali saham mencapai Rp 810,7 miliar sepanjang Maret hingga Juni 2026. Meski program telah rampung, pergerakan saham ASII masih belum menunjukkan penguatan yang signifikan.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, mengatakan buyback saham tidak bisa dilihat sebagai strategi yang tujuannya langsung mengangkat harga saham dalam jangka pendek.

Tujuan utama buyback lebih kepada menahan laju penurunan harga saham, memberikan sinyal bahwa manajemen melihat harga saham saat ini sudah undervalued, serta menjaga kepercayaan investor di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan.

"Jadi, kalau setelah buyback harga saham masih belum naik signifikan, menurut saya bukan berarti strateginya gagal," kata Ekky kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Masalah utama pasar saat ini lebih besar daripada aksi korporasi masing-masing emiten, yaitu masih lemahnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik. Selama investor asing masih cenderung keluar, likuiditas belum kuat, dan kekhawatiran terhadap kondisi makro serta regulasi masih tinggi, efek buyback biasanya hanya menjadi bantalan sementara, bukan katalis utama kenaikan harga.

Dihubungi terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama bilang, mengatakan buyback bukan faktor utama penentu harga saham. Mayoritas emiten seperti TLKM, ASII, BBCA, ADRO, BMRI, hingga ERAA masih diperdagangkan di bawah harga sebelum buyback.

"Ini mengindikasikan tekanan market sentiment, kondisi makro, dan capital flow masih lebih dominan," ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, turut menjelaskan kepada Kontan, Rabu (1/7/2026). Menurutnya, di tengah net sell asing yang masif dan sentimen risk-off global, tekanan jual eksternal jauh lebih besar daripada daya serap buyback secara nominal.

Baca Juga: Prodia Diagnostic Line (PRDL) Mulai IPO, Andalkan Prospek Industri Diagnostik

Meski begitu, buyback tetap merupakan langkah strategis yang tepat karena mengurangi saham beredar dan meningkatkan EPS serta ROE secara organik. Namun, efek re-rating baru terlihat dalam satu hingga dua kuartal ke depan melalui laporan keuangan, bukan secara instan pada harga pasar.

Senada, Ekky mengatakan buyback tetap merupakan langkah yang tepat, terutama bagi emiten yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, dan valuasi yang sudah murah. Namun, pasar tetap membutuhkan pembuktian kinerja.

Apabila kinerja perusahaan tetap baik dalam jangka panjang, ketika kepercayaan investor kembali meningkat, saham-saham yang lebih dulu diakumulasi biasanya berasal dari perusahaan dengan fundamental baik dan valuasi menarik.

Dari deretan emiten yang melakukan buyback, Ekky memilih MBMA, TLKM, dan MYOR sebagai saham yang menarik untuk dicermati. Pasalnya, MBMA menarik karena secara kinerja sudah mulai menunjukkan perbaikan, terutama dari kenaikan volume bijih nikel, perbaikan margin NPI, dan potensi kontribusi bisnis hilirisasi ke depan.

Selain itu, buyback MBMA juga cukup besar sehingga bisa menjadi sinyal bahwa manajemen melihat valuasi sahamnya sudah terlalu tertekan.

TLKM juga menarik karena termasuk saham defensif dengan fundamental yang relatif solid, arus kas kuat, dan bisnis yang masih dibutuhkan secara struktural. Meski harga sahamnya masih tertekan, buyback TLKM bisa menjadi sentimen positif karena dilakukan oleh emiten besar dengan posisi kas yang kuat. Selain itu, sektor telekomunikasi juga cenderung lebih defensif ketika kondisi pasar masih fluktuatif.

Sementara itu, MYOR menarik karena menjadi salah satu contoh emiten yang harga sahamnya relatif lebih mampu bertahan setelah periode buyback.

Dari sisi fundamental, MYOR juga masih cukup baik karena berada di sektor consumer goods yang defensif, memiliki merek yang kuat, dan kinerja labanya masih bertumbuh. Dus, buyback MYOR mendapat respons yang lebih positif karena didukung oleh fundamental dan prospek laba yang masih cukup solid.

"Saran saya untuk investor, jangan membeli saham hanya karena ada buyback. Investor tetap perlu melihat realisasi buyback, kondisi kas perusahaan, prospek laba, valuasi, dan sentimen sektoralnya. Buyback yang paling menarik adalah buyback dari emiten yang memang punya fundamental kuat dan kinerja yang masih bisa bertumbuh. Kalau hanya buyback tanpa perbaikan kinerja, dampaknya ke harga saham biasanya akan terbatas," tambah Ekky.

Baca Juga: Saham Emiten yang Menggelar Buyback Masih Turun, Ini Penyebabnya

Abida pun menyarankan investor untuk tetap mencermati emiten berkapitalisasi besar dengan fundamental yang solid, mulai dari BBCA, TLKM, dan ASII.

Rekomendasi Saham

Dari sisi rekomendasi, Ekky melihat MBMA masih menarik untuk trading buy atau speculative buy dengan target swing di area Rp 575, lalu target utama di kisaran Rp 670–Rp 700. MYOR juga menarik untuk buy on weakness dengan target harga di kisaran Rp 2.100–Rp 2.200.

Adapun TLKM bisa dicermati untuk akumulasi bertahap, terutama bagi investor yang mencari saham defensif dengan valuasi yang sudah lebih murah. Namun, secara umum strategi masuk tetap perlu dilakukan secara bertahap karena kondisi pasar masih dipengaruhi oleh kepercayaan investor yang belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, Elandry masih merekomendasikan saham dengan fundamental kuat seperti BBCA dengan target harga Rp 6.500, BMRI Rp 4.500, TLKM Rp 2.800, ASII Rp 5.200, dan ERAA Rp 430.

"Buyback dapat menjadi katalis tambahan, tetapi keputusan investasi tetap sebaiknya mengacu pada fundamental dan prospek jangka panjang," tutup Elandry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×