kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

AirAsia Indonesia (CMPP) targetkan dana Rp 4 triliun dari rights issue


Minggu, 08 September 2019 / 12:29 WIB
AirAsia Indonesia (CMPP) targetkan dana Rp 4 triliun dari rights issue
ILUSTRASI. AirAsia Indonesia (CMPP) menargetkan perolehann dana Rp 4 triliun dari rights issue.

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) berencana menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Proses aksi korporasi ini telah dimulai sejak Juli 2019.

AirAsia mendapuk Sinarmas Sekuritas dan Mirae Asset Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Direktur Sinarmas Sekuritas Kerry Rusli menyatakan, dalam waktu dekat Sinarmas Sekuritas akan mengurus aksi korporasi rights issue AirAsia. “Perolehan dana penerbitan saham baru ini mencapai Rp 4 triliun,” jelasnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/9).

Kerry menyatakan, dana segar hasil penerbitan saham baru ini sebagian akan digunakan sebagai modal kerja dan sebagian digunakan untuk ada perpetual securities seperti rights issue pertama CMPP yang dilakukan pada 2017. Melansir prospektus rights issue AirAsia tahun 2017, hasil dana HMETD sebelumnya mayoritas digunakan untuk mengambilalih secara inbreng Sekuritas Perpetual Air Asia milik PT Fersindo Nusaperkasa dan AirAsia Investement Ltd.

Baca Juga: Tingkatkan keterisian, AirAsia Indonesia (CMPP) tambah rute dan armada baru

Saat ini, pemegang saham CMPP adalah Air Asia Investment Ltd sebanyak 49,25% dan PT Fersindo Nusaperkasa sebesar 49,16%, sisanya dimiliki oleh publik sebanyak 1,59%.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama AirAsia Dendy Kurniawan belum bisa banyak berkomentar mengenai aksi korporasi ini. Tapi menurut catatan Kontan sebelumnya, CMPP bakal menggelar rights issue pada kuartal III 2019.

Tujuan dari rights issue salah satunya untuk memenuhi Peraturan Bursa No 1-A meningkatkan saham yang beredar di publik minimun 7,5%. Asal tahu saja sejak 5 Agustus 2019, saham AirAsia disuspensi BEI lantaran belum memenuhi ketentuan jumlah saham publiknya.

Selain itu, hasil HMETD juga untuk memperoleh tambahan modal untuk ekspansi bisnis. AirAsia berencana akan menambah lima unit pesawat baru dan membuka rute baru di sepanjang tahun.

Dendy menyatakan lima pesawat ini akan didatangkan secara bertahap dengan cara sewa. Tiga unit pesawat akan datang di semester I dan sisanya di semester II nanti.

Baca Juga: Tak penuhi free float, saham AirAsia Indonesia (CMPP) disuspensi

Melansir laporan keuangannya di semester I 2019, AirAsia mencatatkan kenaikan aset hingga 11,73% dari Rp 2,84 triliun di 31 Desember 2018 menjadi Rp 3,17 triliun pada semester I 2019.

Adapun pendapatannya naik hingga 63% year on year (yoy) menjadi Rp 2,99 triliun. Kendati demikian, beban usaha CMPP memberatkan keuangannya di paruh pertama tahun ini. Tercatat beban bahan bakar dan sewa pesawat yang naik cukup tinggi. Beban bahan bakar tumbuh 59,5% yoy dari sebelumnya Rp 746,62 miliar di Juni 2018 menjadi Rp 1,19 triliun. Adapun dana sewa pesawat juga naik 60,69% yoy menjadi Rp 511,42 miliar karena realisasi tiga pesawat untuk kepentingan ekspansi perusahaan.

Oleh karena itu, AirAsia masih membukukan rugi bersih Rp 82,64 miliar. Walau begitu, rugi bersih ini turun dari periode yang sama tahun sebelumnya.




TERBARU

Close [X]
×