kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

AALI Bagi Dividen Tahun 2025 Sebesar Rp 458 per Saham, Simak Prospek & Rekomendasinya


Rabu, 15 April 2026 / 18:08 WIB
AALI Bagi Dividen Tahun 2025 Sebesar Rp 458 per Saham, Simak Prospek & Rekomendasinya
ILUSTRASI. Public Expose Astra Agro Lestari (Kontan/Pulina Nityakanti)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diproyeksikan masih prospektif di tahun 2026. Sahamnya pun masih menarik untuk dikoleksi investor.

AALI membagikan dividen tunai sebesar Rp881,5 miliar atau Rp458 per saham. Direktur Astra Agro Tingning Sukowignjo mengatakan bahwa besaran itu setara dengan 60% dari laba bersih AALI pada tahun 2025.

Sebelumnya, pada 24 Oktober 2025, AALI telah membayarkan dividen interim sebesar Rp236 miliar atau Rp123 per saham. 

“Sisanya sebesar Rp647 miliar atau Rp335 per saham akan dibayarkan pada 13 Mei 2026 kepada pemegang saham,” ujarnya dalam Public Expose AALI, Rabu (15/4/2026).

Sebagai gambaran, AALI membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun di tahun 2025. Ini naik 28% year-on-year (yoy) di tengah volatilitas harga crude palm oil (CPO) dan turunannya.

Perseroan juga mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 31% menjadi Rp28,66 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp21,82 triliun. 

Presiden Direktur Astra Agro, Djap Tet Fa mengungkapkan, peningkatan pendapatan merupakan efek dari kenaikan produksi CPO sebesar 6% yoy menjadi 1,2 juta ton dan produksi kernel sebesar 8% yoy menjadi 252 ribu ton. 

“Adapun volume penjualan CPO dan turunannya pada 2025 naik 13% menjadi 1,8 juta ton,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Di tahun 2026, AALI menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,4 triliun pada tahun 2026. Angka ini naik 79% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi tahun 2025 yang sebesar Rp782 miliar.

Baca Juga: Astra Agro (AALI) Anggarkan Belanja Modal Rp 1,4 Triliun di 2026, Ini Tujuannya

Tet Fa merinci, mayoritas dana tersebut atau sekitar 63,8% akan dialokasikan untuk sektor perkebunan (plantation), termasuk agenda penanaman kembali (replanting). 

Langkah ini diambil untuk memastikan produktivitas tanaman tetap optimal di tengah beban input produksi yang mahal.

"Lalu untuk mill (pabrik) dan port sebesar 19,8%, serta sektor non-plantation untuk pengadaan kendaraan angkut dan aset pendukung lainnya sebesar 16,4%," tuturnya.

Alokasi pada kendaraan angkut dan infrastruktur pendukung ini menjadi krusial. Sebab, kenaikan biaya logistik merupakan salah satu dampak langsung dari krisis energi saat ini. 

“Dengan memiliki infrastruktur angkut yang lebih mumpuni, perseroan berharap dapat mengontrol efisiensi operasional dengan lebih baik,” tuturnya.

Volatilitas harga minyak dunia diakui mengerek harga solar non-subsidi hingga hampir dua kali lipat dalam waktu singkat. Alhasil, eskalasi tensi geopolitik global di Timur Tengah menyebabkan tekanan signifikan pada struktur biaya operasional perusahaan.

Baca Juga: Gelar RUPS, Astra Agro Lestari (AALI) Ubah Susunan Direksi

"Solar non-subsidi itu sudah meningkat. Sampai bulan April ini peningkatan sudah hampir 90% dari sebelumnya. Biasanya Rp14.000-Rp15.000, sekarang mungkin sudah hampir Rp25.000 (per liter)," tuturnya.

Menurut Tet Fa, lonjakan ini merupakan realitas yang tidak dapat dihindari bagi pelaku industri komoditas global. Selain meningkatkan harga bahan bakar, konflik Timur Tengah juga membuat harga pupuk naik.

“Tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) juga memberikan efek domino pada harga pupuk berbahan dasar urea dan amonia. Selain itu, kenaikan biaya logistik akibat tarif angkut yang membengkak,” katanya.

Research Associate Panin Sekuritas, Luthfi Novardiansyah melihat, kinerja pertumbuhan AALI pada tahun 2026 relatif solid.

Kinerja perseroan akan didukung oleh harga CPO global yang relatif menguat atas dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah, serta potensi peningkatan permintaan domestik dari implementasi kebijakan B50 yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026. 

Saat ini, kata Luthfi, AALI berfokus pada strategi replanting dengan target penanaman sekitar 6.000 - 8.000 hektare per tahun, seiring umur tanaman perseroan yang relatif menua. 

Baca Juga: Usia Tanaman Sudah Tua, Astra Agro (AALI) Replanting 8.000 Hektare Sepanjang 2026

“Hal ini pun berpotensi menekan produktivitas yang tercatat dengan fresh fruit bunches (FFB) Yield di 2025 sebesar 15,66 per ton,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).

Selain itu, perseroan menetapkan dividend payout ratio (DPR) sebesar 60% dari total laba bersih tahun buku 2025, dengan total dividen mencapai Rp881,5 miliar. 

“Sebagai perbandingan, DPR di tahun 2024 sebesar 45%,” ungkapnya.

Luthfi pun merekomendasikan hold untuk AALI dengan target harga Rp 8.350 per saham.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, kinerja AALI diperkirakan masih tumbuh, namun lebih moderat setelah lonjakan pada tahun 2025. 

“Kinerja tahun lalu didorong oleh kenaikan harga CPO dan pemulihan produksi, di mana laba bersih naik sekitar 28% YoY,” katanya kepada Kontan, Rabu (15/4).

Ke depan, produksi masih berpotensi meningkat sekitar 7% YoY seiring perbaikan produktivitas. Namun, program replanting dapat menahan pertumbuhan jangka pendek, karena sebagian lahan belum produktif. 

Sentimen positif penggerak kinerja AALI berasal dari harga CPO yang masih relatif tinggi dan permintaan biodiesel.

“Sementara, risiko utama berasal dari volatilitas harga CPO, cuaca, serta kenaikan biaya dari pupuk dan operasional,” ungkapnya.

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk AALI dengan target harga Rp 9.000 per saham, dengan level support di Rp 7.950 - Rp 7.900 per saham.

Baca Juga: Astra Agro (AALI) Bagi Dividen Final Tahun 2025 Rp335 per saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×