kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

2016, net buy asing pada SBN diprediksi Rp 100 T


Rabu, 30 Desember 2015 / 19:54 WIB
2016, net buy asing pada SBN diprediksi Rp 100 T


Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Analis menerawang, investor asing akan mencatatkan net buy minimal Rp 100 triliun di Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun 2016.

Situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, secara year to date hingga Selasa (29/12), porsi asing pada SBN domestik yang dapat diperdagangkan menggemuk 20,97% dari posisi Rp 461,35 triliun menjadi Rp 558,11 triliun.

Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Anil Kumar menduga, investor asing akan mencatat net buy minimal Rp 100 triliun pada tahun 2016. Besar peluang harga Surat Utang Negara (SUN) bakal terangkat akibat adanya kesempatan bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan. Sehingga investor asing bakal tertarik untuk meraih kenaikan harga (capital gain).

Katalis positif juga berasal dari rendahnya inflasi yang kembali ditargetkan 4%. “Kurs rupiah bakal stabil, cenderung apresiasi di kisaran Rp 13.600 – Rp 13.700 per dollar AS,” ungkapnya.

Serupa, Mark Prawirodidjojo, Research Analyst Infovesta Utama memprediksi, pada tahun 2016, investor asing akan menerapkan net buy lebih besar ketimbang realisasi tahun 2015.

Faktor pendorongnya, potensi pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang didukung oleh implementasi berbagai paket kebijakan pemerintah. Ia menerawang, dampak dari realisasi tersebut akan terasa penuh pada waktu mendatang. Adapun pertumbuhan ekonomi Tanah Air diprediksi 5,3% pada tahun 2016.

Mark berpendapat, ada beberapa tantangan yang harus dicermati. Di antaranya aksi lanjutan dari The Fed baik mempertahankan atau mengerek suku bunga acuan. Kemudian pergerakan harga komoditas terutama minyak bumi.

“Lalu ada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan efek kebijakan moneter longgar yang dilaksanakan oleh negara atau blok ekonomi besar seperti China, Eropa dan Jepang,” paparnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×