: WIB    —   
indikator  I  

BUMI melihat kenaikan permintaan batubara di India

BUMI melihat kenaikan permintaan batubara di India

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melihat adanya peluang kenaikan ekspor batubara ke India. Hal ini menyusul munculnya isu adanya kekurangan pasokan batubara sejumlah pembangkit listrik di negara ini.

Dileep Srivastava, Direktur BUMI mengatakan, India menjadi salah satu pasar terbesar BUMI. Setiap tahun, BUMI menjual sekitar 25 juta ton batubara ke India seiring dengan adanya sejumlah komitmen penjualan untuk sejumlah perusahaan di India. "Tentunya kami juga bisa memenuhi adanya kenaikan permintaan," ujar Dileep kepada KONTAN, Selasa (17/10).

Mengutip sejumlah pemberitaan media asing, salah satu petinggi Rajasthan Urja Vikas Nigam, Kajod Lal Meena mengatakan, kekurangan pasokan batubara membuat empat stasiun pembangkit listrik berbahan bakar batubara di India terganggu operasionalnya.

Akibat kekurangan pasokan tersebut, hanya ada 11 unit power plant yang beroperasi dari total 19 pembangkit yang ada. Sehingga, kapasitas produksi listrik di wilayah Rajasthan anjlok 2.900 megawatt (MW) menjadi hanya 4.940 MW.

Coal Secretary of India Shusheel Kumar tak menampik kondisi tersebut. Kekurangan stok dipicu lantaran banyak pengelola pembangkit listrik di India tidak mematuhi kebijakan pemenuhan stok bahan bakar batubara yang tercantum dalam Central Electricity Authority (CEA).

Banyak pihak yang justru menimbun batubara. Padahal, jika para pengelola pembangkit mematuhi kebijakan tersebut, stok batubara seharusnya masih aman. Per 10 Oktober, stok batubara di India sebesar 30,3 juta ton.

Meski demikian, BUMI tak mau gegabah langsung meningkatkan ekspor. Pasalnya, belum terlihat adanya kenaikan permintaan setelah sentimen tersebut muncul. "Penjualan masih normal, untuk TATA Powers dan Adanis," ujar Dileep.

BUMI menargetkan produksi batubaranya tahun ini sebesar 90 juta ton. Angka ini naik 5% dibanding realisasi produksi tahun lalu 86 juta ton.

Namun, belakangan manajemen tengah menghitung ulang target tersebut. Curah hujan tinggi di Kalimantan mengganggu aktivitas produksi BUMI. Manajemen tengah menimbang apakah target 86 juta ton hingga 88 juta ton lebih logis, atau tetap pada target 90 juta ton hingga akhir tahun.


Reporter Dityasa H Forddanta
Editor Wahyu Rahmawati

EMITEN

Feedback   ↑ x
Close [X]