kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.020   39,00   0,22%
  • IDX 5.916   40,29   0,69%
  • KOMPAS100 770   5,43   0,71%
  • LQ45 584   2,70   0,46%
  • ISSI 205   1,22   0,60%
  • IDX30 331   1,85   0,56%
  • IDXHIDIV20 408   2,21   0,55%
  • IDX80 87   0,50   0,57%
  • IDXV30 110   0,09   0,09%
  • IDXQ30 107   0,43   0,40%

Yen dan Franc Swiss Loyo, Kalah Saing dari Daya Tarik Imbal Hasil Dolar AS


Senin, 06 Juli 2026 / 20:18 WIB
Yen dan Franc Swiss Loyo, Kalah Saing dari Daya Tarik Imbal Hasil Dolar AS
ILUSTRASI. Seseorang menukarkan dolar AS dengan peso Kolombia (REUTERS/Nathalia Angarita)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) semakin mengukuhkan dominasinya di pasar valuta asing global pada awal Juli 2026.

Kenaikan imbal hasil aset berbasis dolar membuat investor terus memburu greenback, sehingga menekan mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss.

Mengacu data Trading Economics pada Senin (6/7/2026) pukul 19.11 WIB, pasangan mata uang USD/CHF naik 0,30% ke level 0,80.

Secara tahun berjalan atau year to date (YTD), pasangan ini telah menguat 1,64%, menandakan pelemahan franc Swiss terhadap dolar AS.

Di pasar Asia, tekanan terhadap yen bahkan lebih besar. Pada pukul 19.14 WIB, USD/JPY melonjak 0,60% ke level 162,330. Secara tahunan (year on year/YoY), pasangan mata uang tersebut telah naik 11,29%, mencerminkan depresiasi yen yang masih berlanjut.

Baca Juga: Indeks Dolar Di Atas 100, Begini Prospek Valas Utama

Analis mata uang Lukman Leong menilai penguatan dolar AS didorong oleh tingginya imbal hasil aset berbasis greenback yang membuat arus modal global tetap mengalir ke Amerika Serikat.

Di sisi lain, kondisi domestik Jepang dan Swiss justru memperlemah daya tarik mata uang masing-masing.

"Yen tertekan karena normalisasi kebijakan Bank of Japan (BoJ) berjalan terlalu lambat, sementara franc Swiss terbebani ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dari Swiss National Bank (SNB) di tengah inflasi yang rendah," ujar Lukman kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Tekanan terhadap yen juga dinilai belum mereda meski BoJ telah menaikkan suku bunga. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan langkah tersebut belum cukup efektif untuk menopang nilai tukar yen.

"Kenaikan suku bunga Bank of Japan sejauh ini belum mampu memperkuat yen," kata Ibrahim kepada Kontan, Senin (6/7).

Baca Juga: BI Perketat Aturan Valas, Batas Pembelian Tanpa Underlying Turun Jadi US$ 10.000

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja AS sebagai penentu arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Selama imbal hasil aset dolar tetap tinggi, mata uang AS berpotensi mempertahankan dominasinya terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Meski demikian, Lukman melihat pelemahan yen mulai membuka peluang bagi investor dengan horizon investasi lebih panjang.

Menurutnya, yen berpotensi kembali menarik sebagai instrumen diversifikasi apabila selisih suku bunga antara AS dan Jepang mulai menyempit dalam beberapa waktu mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×