Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen dan konstruksi aspal modifikasi, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) bersiap meningkatkan kinerja keuangannya pada 2026.
Direktur Utama SOLA Mochamad Bhadaiwi mengatakan, pihaknya memproyeksikan pendapatan SOLA mencapai Rp 412,57 miliar pada 2026. Bersamaan dengan itu, laba periode berjalan SOLA diperkirakan dapat menyentuh Rp 52,74 miliar.
SOLA berada dalam jalur yang positif untuk mencapai target tersebut.
Pada kuartal I-2026, pendapatan SOLA melesat 403,75% year on year (yoy) menajdi Rp 75,26 miliar. Laba bersih SOLA juga meroket 10.830% yoy menjadi Rp 10,93 miliar.
Baca Juga: Merdeka Baterry Materials (MBMA) Siapkan Rp 1,46 Triliun untuk Buyback Saham
Untuk mencapai target tersebut, ada sejumlah proyek yang menjadi penopang pendapatan SOLA. Salah satunya adalah peningkatan jalan hauling batubara PT Servo Lintas Raya sepanjang 36 km.
"Proyek jalan hauling tersebut merupakan kontrak terbesar yang didapat perusahaan saat ini," kata dia dalam paparan publik, Senin (15/6/2026).
Selain itu, terdapat proyek pengerjaan jalan hauling sepanjang 10 km milik PT Royaltama Mulia Konstruksi yang sedang digarap SOLA.
Emiten ini juga tengah mengerjakan proyek penyediaan pasokan aspal emulsi untuk PT Pertamina Hulu Rokan dengan kontrak selama tiga tahun, sehingga memberi kepastian pendapatan berulang (recurring income).
SOLA pun turut serta dalam memasok aspal polimer, aspal emulsi, dan coldmix kepada kontraktor yang mengerjakan proyek jalan nasional dan jalan tol di berbagai wilayah Indonesia.
Manajemen SOLA percaya diri tren positif kinerja keuangannya dapat terus berlanjut.
Baca Juga: Suku Bunga The Fed Berpotensi Bertahan Tinggi, Ini Peluang Reksadana USD
Hal ini didukung oleh komitmen pemerintah yang tetap mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan jalan, jembatan, dan preservasi jalan yang tentunya akan meningkatkan permintaan terhadap aspal buatan dalam negeri.
Ditambah lagi, permintaan aspal juga datang dari sektor industri, seperti pertambangan dan kawasan logistik, yang membutuhkan solusi perkerasan yang cepat dan efisien.
Pihak SOLA tidak menyebut secara rinci kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang 2026.
Namun, hingga kuartal I-2026, emiten ini telah mengeluarkan dana belanja modal sekitar Rp 30 miliar--Rp 40 miliar yang sebagian besar ditujukan untuk pengadaan alat berat guna mendukung proyek konstruksi jalan.
"Kebutuhan investasi pada alat berat menjadi prioritas, karena proyek-proyek konstruksi yang diperoleh kami memerlukan kapasitas operasional yang lebih besar dari sebelumnya," ungkap Bhadaiwi.
Lebih lanjut, SOLA juga bersiap mendiversifikasi bisnisnya ke sektor lain. Salah satunya adalah pengembangan Carbon, Captoure, Utilization, and Storage (CCUS), di mana SOLA bekerja sama dengan mitra strategisnya yaitu APOLPO-USA.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tidak Berubah di Level Rp 2.729.000 Per Gram, Selasa (16/6)
Melalui kerja sama ini, SOLA tengah aktif menjajaki peluang dari berbagai sektor seperti industri semen dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berpotensi menjadi pengguna teknologi CCUS.
Lantaran masih penjajakan, untuk saat ini unit usaha CCUS SOLA belum memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan.
Tak hanya itu, SOLA juga sedang mengembangkan peluang untuk menjadi pengembang ataupun kontraktor EPC proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, secara umum SOLA sedang berada dalam fase pertumbuhan sebagai sebuah perusahaan.
Target kinerja pendapatan dan laba bersih SOLA pada 2026 tergolong ambisius, namun tetap rasional lantaran didukung oleh proyek-proyek strategis seperti pembangunan jalan hauling ataupun penyediaan pasokan aspal modifikasi.
Baca Juga: IHSG Melesat 4,12% ke 6.254, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing di Awal Pekan
"Aspal modifikasi menjadi keunggulan kompetitif yang dimiliki SOLA, karena karakteristiknya yang terbuat dari material khusus untuk meningkatkan ketahanan jalan," kata dia, Senin (15/6).
Terlepas dari itu, SOLA tetap harus mewaspadai risiko seperti volatilitas harga bahan baku ataupun ketergantungan terhadap proyek infrastruktur pemerintah yang sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan arah kebijakan.
Oleh karena itu, diversifikasi bisnis jelas dibutuhkan SOLA agar sumber pendapatannya bertambah.
Nafan tidak memiliki rekomendasi untuk SOLA lantaran tidak masuk kategori yang likuid atau berkapitalisasi besar. Namun, SOLA tetap punya prospek menarik selama mampu mencetak kinerja positif secara konsisten di tengah fase pertumbuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












