Reporter: Barratut Taqiyyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat 4,4% dari 3.397,63 menjadi 3.547,12. Dengan demikian, ini merupakan rekor penutupan tertinggi IHSG sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, sejumlah saham juga menorehkan rekor terbaru sejak debut pertamanya di pasar saham. Sementara itu, beberapa saham juga melonjak tajam. Berikut kilas balik pergerakan saham selama sepekan untuk periode 27 September-1 Oktober 2010.
Senin (27/09):
1. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) kembali menembus rekor baru. Pada pukul 10.40, saham PTBA melesat 2,26% menjadi Rp 20.350. Ini merupakan level tertinggi sejak debut perdananya di Desember 2002.
Rupanya, rencana stock split PTBA masih membuat investor berburu saham ini. Seperti yang diberitakan KONTAN sebelumnya, memang tengah mengkaji rencana stock split. Kendati begitu, rencana stock split belum pasti akan dilakukan tahun ini.
2. Saham PT Tri Polyta Indonesia (TPIA) melesat menembus rekor baru di senin pagi. Sesaat setelah pembukaan, saham emiten berkode TPIA ini melompat 20% menjadi Rp 3.900. Pada pukul 09.30, saham TPIA berada di level Rp 3.700 atau naik 13,58%.
Lonjakan saham ini terkait merger antara Tripolyta dan Chandra Asri. Penggabungan dua anak usaha Barito Pacific (BRPT) yang bergerak di bidang petrokimia itu dilakukan melalui pertukaran saham (swap deal) senilai Rp 8,2 triliun. Saat ini, proses merger masih berlangsung dan ditargetkan bisa selesai secepatnya.
Selasa (28/09):
1. Salah satu saham tambang yang pada Selasa (28/09) melenggang tenang di zona hijau adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA). Pada pukul 11.29, saham dengan emiten PTBA ini naik 1,50% menjadi Rp 20.300. Sebelumnya, saham ini sempat terbang 2,2% ke posisi Rp 20.450.
Lonjakan saham PTBA terkait rumor ekspansi yang tengah dipersiapkan perusahaan. Yakni, PTBA berencana membangun pelabuhan batubara di Lampung. Dengan pembangunan ini, kapasitas pengangkutan batubara PTBA akan naik dua kali lipat menjadi 25 juta ton per tahun.
2. Pada pukul 11.20, saham PT Bank Mandiri (BMRI) terbang hingga 2,26% menjadi Rp 6.800. Bahkan sebelumnya saham BMRI sempat bertengger di posisi Rp 6850 atau naik 3%.
Lonjakan saham BMRI masih terkait dengan disetujuinya rencana BMRI untuk menerbitkan saham baru alias rights issue. Beberapa waktu lalu, rencana ini disetujui oleh DPR. Menurut Presiden Direktur Bank Mandiri Zulkifli Zaini, rencananya rights issue bakal dihelat pada Desember tahun ini atau Febuari 2011.
Rabu (29/09):
1. Saham PT Timah (TINS) sempat melonjak tajam ke level Rp 2.901. Jika dihitung, ada kenaikan sebesar 4,5%. Namun, pada pukul 10.55, saham TINS berada di posisi Rp 2.850 atau naik 2,7%.
Saham TINS diburu investor akibat naiknya harga timah di pasar internasional. Asal tahu saja, data Bloomberg menunjukkan, kontrak harga timah untuk pengantaran tiga bulan ke depan naik 1,5% menjadi US$ 24.000 per metric ton di London kemarin. Ini merupakan penutupan harga timah tertinggi sejak 27 Mei 2008.
2. Salah satu saham konstruksi yang menjadi incaran investor hari ini adalah PT Bakrie Development Tbk (ELTY). Pada pukul 10.45, saham ELTY naik 1,95% menjadi Rp 157.
Penyebab lonjakan saham ini terkait rencana anak usaha ELTY, PT Bakrie Toll Road untuk menerbitkan obligasi senilai Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun. Seperti yang diberitakan sebelumnya, dana hasil obligasi itu rencananya bakal digunakan untuk membiayai proyek jalan tol dan refinancing utang yang akan jatuh tempo. Rencananya, ELTY akan melaksanakan seleksi penjamin emisi penerbitan obligasi tersebut pada akhir 2010.
Kamis (30/09):
1. Saham PT Akasha Wira International (ADES) kembali terbang tinggi. Pada penutupan Kamis (30/09), saham ADES ditutup pada level Rp 2.350 atau naik 25%.
Jika dilihat, pada 30 Agustus, saham ADES masih berada di posisi Rp 670. Dengan demikian, dalam sebulan terakhir, saham ini sudah terbang hingga 250% lebih. Kenaikan saham terjadi mulai 22 September lalu di mana harga ADES ditutup pada posisi Rp 970. Pada hari yang sama, 82% pemegang saham minoritas ADES menyetuji untuk menjual sahamnya kepada manajemen AQUA seharga Rp 500.000. Sejak saat itu, harga saham perusahaan air mineral ini terus melambung.
2. Saham PT Petrosea (PTRO) melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun. Pemicu terjadinya kenaikan saham emiten jasa pertambangan ini adalah terkait rencana PT Indika Energy (INDY) untuk menjual kembali 18,5% saham PTRO ke publik.
INDY mengakuisisi saham PTRO melalui tender offer yang berlangsung tahun lalu. Kabarnya, INDY sudah menunjuk PT Macquarie Capital Securities dan PT Citigroup Securities Indonesia untuk mengatur penjualan saham tersebut.
Rumor ini membuat investor ramai-ramai memburu saham PTRO. Catatan saja, pada pukul 10.18, saham PTRO melonjak 20% atau Rp 4.600 dan bertengger di level Rp 27.600.
JUmat (01/10):
1. Saham PT Matahari Putra Prima (MPPA) naik ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir, Jumat (01/10). Lonjakan saham MPPA terjadi setelah perusahaan ritel ini melaporkan kinerja paruh pertama 2010.
Berdasarkan keterangan manajemen MPPA, laba bersih di semester I 2010 naik tajam ke posisi Rp 5,6 triliun. Sebelumnya, pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih MPPA hanya mencapai Rp 130,4 miliar.
Pada penutupan sesi I, saham MPPA melesat 6,32% menjadi Rp 1.010. Sebelumnya, saham ini sempat bertengger di level tertinggi harian di posisi Rp 1.050.
2. Salah satu sektor yang turut menyumbang data positif untuk IHSG adalah sektor pertambangan dengan kenaikan 0,90% menjadi 2.655,69. Tak mengherankan, sebab, saham-saham berbasis energi melonjak tinggi pada Jumat (01/10) pagi ini. Sebut saja PT Energi Mega Persada (ENRG) naik 1,75% menjadi Rp 116. kenaikan juga dialami PT Adaro Energy (ADRO) yang naik 1,2% menjadi Rp 2.050.
Lonjakan saham energi masih berkaitan erat dengan kenaikan harga minyak dunia. Asal tahu saja, kontrak harga minyak untuk pengantaran November naik 2,7% menjadi US$ 79,97 sebarel di New York, kemarin. Ini merupakan harga tertinggi dalam tujuh minggu belakangan. Pasca transaksi berdagangan, kontrak yang sama berada di posisi US$ 80,32 sebarel.
Tingginya harga minyak juga turut memberikan outlook positif bagi produsen bahan bakar alternatif seperti batubara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News