kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Wijaya Karya Beton (WTON) akan jual 377,15 juta lembar saham treasuri


Kamis, 22 Agustus 2019 / 14:54 WIB

Wijaya Karya Beton (WTON) akan jual 377,15 juta lembar saham treasuri


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Beton (WTON, anggota indeks Kompas100) berencana segera melepas saham treasurinya sebanyak 377,15 juta lembar. Pelepasan saham treasuri tersebut jatuh tempo pada November 2019. 

Sekretaris Perusahaan WTON Yuherni Sisdwi Rachmiyati mengatakan dana yang dihimpun dari hasil penjualan saham tresuri akan digunakan untuk alternatif pemenuhan dana investasi, selain itu juga untuk instrumen pendanaan lain. Namun mengenai harga, manajemen belum membuat rencana.

Baca Juga: Akhir tahun ini, Bukit Asam (PTBA) akan lepas sekitar 127,8 juta saham treasuri

"Pelepasan saham treasuri pada saat kapan dan di harga berapa akan mengikuti aturan dan konsultasi dengan OJK," jelas Yuherni Sisdwi Rachmiyati kepada Kontan, Kamis (22/8). 

Sebelumnya, Direktur Keuangan WTON Imam Sudiyono mengatakan saham treasuri dapat dilepas paling tidak pada Oktober 2019. Mengenai harga, dia juga menjelaskan akan mengikuti peraturan OJK yaitu nilai tertinggi dari rata-rata harian selama 90 hari. 

Adapun harga saham WTON saat berita ini disiarkan sebesar Rp 525. Selama tiga bulan, harga WTON naik 7,14%. Adapun nilai tertinggi yang pernah dicapai WTON dalam 3 bulan mencapai Rp 630. 

Baca Juga: Wijaya Karya Tbk (WIKA) berencana melepas 6 juta saham treasuri tahun ini

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menjelaskan untuk menjual saham treasuri tidak terlalu mudah. Sebab, saham treasuri biasanya menimbulkan persepsi yang buruk di kalangan investor. 

"Dikarenakan perusahaan akan menjual saham yang perusahaan miliki ke pasar," jelas dia. 

Namun transaksi akan lebih mudah apabila perusahaan memiliki standby buyer. Jika standby buyer sudah ada, maka perusahaan tidak harus menjual saham treasurinya melalui pasar reguler.

Baca Juga: Semester I-2019, rugi bersih Bima Sakti Pertiwi (PAMG) membengkak jadi Rp 5,63 miliar


Reporter: Benedicta Prima
Video Pilihan


Close [X]
×