kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Wall Street Terjun Bebas: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Anjlok Lebih Dari 5,5%


Sabtu, 05 April 2025 / 06:10 WIB
Wall Street Terjun Bebas: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Anjlok Lebih Dari 5,5%
ILUSTRASI. Wall Street terpapar aksi jual besar-besaran untuk hari kedua berturut-turut


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street terjun bebas dengan indeks Nasdaq Composite yang mengkofirmasi pasar melemah karena perang dagang global yang meningkat memicu kerugian pasar saham terbesar sejak pandemi.

Jumat (4/4), indeks Nasdaq Composite anjlok 962,82 poin atau 5,82% menjadi 15.587,79, yang mengonfirmasi bahwa indeks yang sarat teknologi tersebut berada dalam pasar yang lesu dibandingkan dengan rekor penutupan tertingginya di level 20.173,89 pada tanggal 16 Desember.

Setali tiga uang, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup ambles 2.231,07 poin atau 5,50% ke 38.314,86 poin, yang mengonfirmasi koreksi ke rekor penutupan tertingginya sebesar 45.014,04 pada tanggal 4 Desember.

Indeks S&P 500 pun anjlok 322,44 poin, atau 5,97%, hingga ditutup pada 5.074,08 poin, hasil terendah dalam 11 bulan.

Dengan penutupan tersebut, indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite membukukan penurunan dua hari terbesar sejak virus corona yang muncul menyebabkan kepanikan global selama masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump. Dalam dua hari perdagangan, indeks Dow sudah terjun 9,3%, S&P 500 ambruk 10,5%, dan Nasdaq anjlok 11,4%.

Baca Juga: Bursa Wall Street Rontok Setelah China Balas Tarif Impor AS

Dampak dari tarif besar-besaran Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran akan resesi global, yang mengakibatkan hilangnya triliunan dolar dari perusahaan-perusahaan AS. Menyoroti kepanikan yang berkembang di kalangan investor, Indeks Volatilitas CBOE, atau pengukur ketakutan Wall Street, ditutup pada level tertinggi sejak April 2020.

Sejak Rabu malam, ketika Trump meningkatkan hambatan tarif ke level tertinggi dalam lebih dari satu abad, investor telah menjual saham, karena takut akan realitas ekonomi AS yang baru dan juga bagaimana mitra dagang AS mungkin membalas dengan memperketat hambatan perdagangan mereka sendiri.

Jumlah saham yang diperdagangkan pada hari Jumat memecahkan rekor, dengan volume di bursa AS sekitar 26,79 miliar saham, mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya sebesar 24,48 miliar saham yang diperdagangkan pada tanggal 27 Januari 2021.

"Saat ini, seberapa buruk keadaan bergantung pada seberapa berkomitmennya pemerintah terhadap serangkaian kebijakan ini yang, jelas, ditolak pasar," kata Steve Sosnick, kepala strategi di Interactive Brokers.

Pemerintah global mulai bereaksi terhadap pengumuman tarif Trump pada hari Jumat, yang selanjutnya melemahkan sentimen investor bahwa resesi global dapat dihindari. JP Morgan mengatakan pihaknya memperkirakan peluang 60% ekonomi global memasuki resesi pada akhir tahun, naik dari 40% sebelumnya.

Kementerian Keuangan China mengatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 34% pada semua barang AS mulai 10 April. Sementara itu, perdana menteri Inggris, Australia, dan Italia mengadakan pembicaraan tentang cara menanggapi serangan tarif Trump.

"Saat ini kita berada di Wild West perang dagang," kata Mariam Adams, direktur pelaksana di UBS Wealth Management.

Dengan posisi saat ini, indeks S&P 500 turun 9,1% dalam sepekan terakhir. Sedangkan indeks Dow melemah 7,9%, dan Nasdaq merosot 10% di pekan ini.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbicara di depan umum untuk pertama kalinya sejak pengumuman tarif Trump. Powell menyoroti tarif yang sangat tinggi yang tidak terduga dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat, yang menyiapkan panggung untuk keputusan yang menantang bagi para bankir sentral AS.

Pembelian safe haven di pasar obligasi menyebabkan imbal hasil pada obligasi Treasury 10 tahun acuan menjadi di bawah 4%.

Hal ini mendorong saham bank AS turun lebih jauh, dengan sektor tersebut berada di bawah tekanan secara global, karena prospek pemotongan suku bunga dari bank sentral dan pukulan terhadap pertumbuhan ekonomi dari tarif akan menghambat profitabilitas. Indeks S&P Banks turun 7,3%.

Baca Juga: Presiden Prabowo Dijawalkan Bertemu Investor Saham Pasca Lebaran 2025

Semua 11 sektor pada indeks S&P turun lebih dari 4,5%, dengan sektor energi menjadi yang anjlok untuk hari kedua berturut-turut stelah turun 8,7%, karena saham perusahaan mengikuti penurunan 7,3% dalam harga minyak mentah AS.

Saham perusahaan China yang terdaftar di AS juga anjlok, dengan JD.com, Alibaba, dan Baidu semuanya turun lebih dari 7,7%.

Perusahaan yang memiliki keterpaparan ke China juga anjlok secara keseluruhan, dengan perusahaan berkapitalisasi besar seperti Apple turun 7,3%.

Indeks produsen chip anjlok 7,6%, setelah turun 9,9% pada hari sebelumnya. Sektor ini sangat rentan terhadap pukulan tarif ganda karena banyak perusahaan chip mendesain chip mereka di AS, tetapi memproduksinya di China.

Selanjutnya: Resep Kue Apem Nasi Putih Empuk, Isian Kotak Snack Acara Syawalan yang Simpel

Menarik Dibaca: Resep Kue Apem Nasi Putih Empuk, Isian Kotak Snack Acara Syawalan yang Simpel

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×