kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Wall Street naik hampir 2%, analis menyebut saham reli di pasar yang bearish


Rabu, 20 Mei 2020 / 21:38 WIB
ILUSTRASI. Wall Street dibuka menguat karena harapan pemulihan ekonomi.


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street dibuka menguat karena harapan pemulihan ekonomi. Rabu (20/5) pukul 21.28 WIB, Dow Jones Industrial Average naik 1,62% ke 24.599.

Indeks S&P 500 menguat 1,76% ke 2.974. Nasdaq Composite pun menanjak 1,82% ke 9.352.

"Pasar saham saat ini berada dalam kondisi tidak ada kabar buruk dan saham menuju resistance terdekat,"  kata James Athey, direktur investasi Aberdeen Standard Investments kepada Reuters.

Baca Juga: IHSG hanya turun tipis 0,06% ke 4.545 pada akhir perdagangan Rabu (20/5)

Laporan kinerja kuartal pertama emiten ritel menunjukkan angka yang lebih baik. Selain itu, harapan pemulihan ekonomi yang lesu akibat virus corona turut menjadi tenaga bagi pasar saham Amerika Serikat (AS).

Dua pertiga dari 223 pengelola dana yang disurvei oleh Bank of America menyebut bahwa kenaikan pasar saham saat ini merupakan reli di pasar yang cenderung bearish.

Harga minyak yang masih menanjak dipicu oleh harapan perbaikan permintaan komoditas energi dan penarikan persediaan minyak mentah AS. "Meski negara-negara mulai merelaksasi pembatasan kegiatan ekonomi dan sosial, ekonomi tidak akan kembali ke posisi sebelum wabah," ungkap strategis DBS Bank di Singapura dalam catatan yang dikutip Reuters.

Baca Juga: Harga komoditas cenderung volatile, cermati saham-saham ini

DBS menyebut bahwa tensi geopolitik antara AS dan China pun mulai kembali. Selain itu, kondisi politik AS memanas menjelang pemilihan presiden November mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×