Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten produsen minyak kelapa sawit alias CPO tercatat berbeda arah sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Sejumlah emiten tercatat menorehkan kenaikan kinerja sepanjang semester I 2026.
Tengok saja, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan pendapatan bersih Rp 15,25 triliun pada kuartal II 2026, naik 5,62% secara tahunan alias year on year (YoY). Laba bersih juga naik 56,5% YoY ke Rp 1,09 triliun di akhir kuartal II 2026.
Lalu, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 5,85 triliun per semester I 2026, naik 6,33% YoY. TAPG membukukan laba bersih Rp 2,04 triliun per semester I 2026, naik 20,43% YoY.
PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 6,29 triliun di akhir kuartal II 2026, meningkat 3,4% YoY. Laba bersih tercatat sebesar Rp 985,88 miliar atau meningkat 7,8% YoY.
Baca Juga: Laba Emiten LQ45 Moncer, Analis Beberkan Deretan Saham Potensial hingga Akhir 2026
“Peningkatan laba terutama didukung kenaikan volume penjualan Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK), disertai peningkatan harga rata-rata penjualan (average selling price/ASP) CPO, PK, dan Palm Kernel Oil (PKO) masing-masing sebesar 2,5%, 13,0%, dan 9,4%,” ujar Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo dalam keterangan resmi.
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) membukukan penjualan sebesar Rp 2,69 triliun di akhir Juni 2026, naik 16% YoY. Laba bersih juga naik 25% YoY menjadi Rp 891 miliar di periode ini.
Tan Agustinus Dermawan, Presiden Direktur LSIP mengatakan, peningkatan kinerja perseroan didorong kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata produk sawit.
“Meskipun berbagai tantangan pada sektor agribisnis terus berlanjut termasuk volatilitas harga komoditas, kondisi cuaca, dan ketidakpastian global, Lonsum mencatatkan kinerja positif pada semester pertama tahun 2026,” ujarnya dalam keterbukaan informasi dikutip 3 Agustus 2026.
Di sisi lain, emiten CPO grup konglomerat Haji Isam justru mengalami penurunan kinerja pada periode ini.
PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) mencatat penurunan penjualan 13,59% YoY dari Rp 2,04 triliun menjadi Rp 1,76 triliun per kuartal II 2026. Laba bersih tahun berjalan menjadi Rp 158,93 miliar di akhir Juni 2026, turun 0,9% YoY.
Anak usaha JARR, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mencatat penjualan bersih Rp 304,97 miliar per semester I 2026, turun 20,82% YoY. PGUN mengantongi laba bersih periode berjalan Rp 44,51 miliar di akhir Juni 2026, turun 46,71% YoY.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan melihat, kinerja emiten CPO secara umum sebenarnya masih bergerak moderat hingga stabil sepanjang semester I 2026.
“Kunci pembeda kinerja antaremiten terletak pada volume produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan tingkat efisiensi pemrosesan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Mayoritas Emiten di Indeks LQ45 Raih Kinerja Apik pada Semester I-2026
Pendorong utama kinerja emiten CPO di periode ini adalah stabilitas harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) CPO global serta ditopang kuatnya penyerapan domestik melalui program mandatori biodiesel.
Sebagai gambaran, melansir Trading Economics, harga CPO saat ini ada di level MYR 4.629 per ton. Ini naik 14,30% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Sedangkan, pemberat utama berasal dari normalisasi produksi sawit akibat siklus cuaca serta tantangan biaya input operasional dan logistik.
“Yang menarik, emiten terintegrasi dengan struktur biaya (cash cost) terendah serta manajemen umur tanaman yang optimal, seperti TAPG atau LSIP, cenderung mencetak margin profitabilitas paling solid,” ungkapnya.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ester Mulyani menilai, kinerja emiten CPO sepanjang semester I 2026 masih bervariasi atau mixed.
Pada kuartal I, beberapa emiten sawit mencatatkan penurunan laba bersih. Namun, memasuki kuartal II, sebagian perusahaan mulai menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya volume penjualan, harga CPO yang lebih baik, dan efisiensi operasional.
Pendorong utama kinerja semester I adalah permintaan domestik yang relatif kuat, perbaikan tingkat ekstraksi minyak, serta kemampuan perusahaan menjaga biaya produksi.
“Sebaliknya, pemberatnya berasal dari produksi yang masih rendah secara musiman pada awal tahun, kenaikan biaya pupuk, fluktuasi harga jual CPO, dan lemahnya permintaan ekspor pada periode tertentu,” ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Ekspansi Data Center Diproyeksi Jadi Penopang Kinerja Telkom (TLKM) hingga Akhir 2026
Dari laporan semester I yang telah dipublikasikan, AALI dapat disebut sebagai jawara sementara. Pendapatan AALI tumbuh 5,6% YoY menjadi Rp 15,3 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 56,5% menjadi Rp 1,10 triliun.
Margin laba kotor naik dari 15,6% menjadi 16,6% dan margin laba bersih meningkat dari 4,9% menjadi 7,2%. Kinerja tersebut cukup solid karena terjadi ketika produksi CPO turun 2,1% YoY dan volume TBS yang diolah turun 4%.
Perbaikan ditopang kenaikan oil extraction rate menjadi 19,5% dan pertumbuhan penjualan domestik sebesar 5,8%.
Selain AALI, LSIP juga mencatatkan kinerja cukup kuat. Pendapatannya meningkat sekitar 15,9% menjadi Rp 2,69 triliun dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik induk tumbuh sekitar 24,7% menjadi Rp 891 miliar.
“Namun, kualitas pertumbuhan laba LSIP perlu dilihat lebih hati-hati karena laba kotor justru menurun dan kenaikan laba usaha turut dibantu oleh keuntungan perubahan nilai wajar aset biologis serta peningkatan penghasilan operasi lainnya,” katanya.
David melihat, kinerja emiten CPO di semester II 2026 berpotensi membaik seiring masuknya siklus puncak produksi (peak crop season).
Sentimen positif di semester II nanti adalah ketatnya pasokan minyak nabati kompetitor (minyak kedelai dan minyak bunga matahari) serta konsistensi kebijakan energi hijau domestik.
“Sentimen negatif berasal dari fluktuasi permintaan impor dari negara pembeli utama, seperti India dan China, serta dinamika regulasi perdagangan internasional,” ungkapnya.
Ester berpandangan, dampak kebijakan B50 tidak serta-merta sama besar bagi seluruh emiten di sisa tahun 2026. Manfaat kebijakan ini akan lebih optimal bagi perusahaan yang mampu meningkatkan volume produksi, menjaga tingkat ekstraksi, dan mengendalikan biaya.
Pelaku industri juga masih menunggu penyesuaian alokasi biodiesel, sementara sisa stok B40 masih dapat digunakan hingga akhir September 2026.
“Oleh karena itu, kontribusi B50 kemungkinan baru terlihat lebih kuat secara bertahap,” ungkapnya.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah, Analis Ungkap Penyebab dan Saham Pilihan Besok Selasa (4/8)
Di sisi lain, cuaca juga menjadi faktor penting. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan peluang sebesar 81% terjadinya El Niño sangat kuat pada periode Oktober-Desember 2026. Kekeringan dapat mengurangi produksi dan meningkatkan risiko kebakaran.
“Dalam jangka pendek kondisi ini dapat menopang harga CPO karena kekhawatiran pasokan, tetapi dalam jangka lebih panjang dapat menekan volume produksi dan meningkatkan biaya operasional emiten,” tuturnya.
Untuk keseluruhan 2026, Ester melihat AALI sebagai kandidat jawara di antara peers emiten CPO dengan kombinasi kinerja dan eksekusi paling solid, setelah menunjukkan pertumbuhan laba dan perbaikan margin pada semester I.
“Sementara itu, TAPG menjadi kandidat dengan potensi pertumbuhan lebih agresif apabila produksi pulih pada semester II dan biaya pupuk dapat dikendalikan,” paparnya.
David menyarankan investor melirik saham LSIP dan TAPG. Sementara, Ester merekomendasikan trading buy untuk AALI, TAPG, LSIP, dan DSNG dengan target harga terdekat di Rp 7.350 - Rp 7.500 per saham, Rp 1.900 - Rp 2.000 per saham, Rp 1.550 - Rp 1.600 per saham, dan Rp 1.450 - Rp 1.500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
