kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.783   18,00   0,10%
  • IDX 6.596   -4,17   -0,06%
  • KOMPAS100 859   -4,53   -0,52%
  • LQ45 652   -2,54   -0,39%
  • ISSI 229   -0,27   -0,12%
  • IDX30 365   -1,19   -0,33%
  • IDXHIDIV20 451   -1,09   -0,24%
  • IDX80 98   -0,50   -0,51%
  • IDXV30 124   -1,26   -1,01%
  • IDXQ30 117   -0,24   -0,20%

Wall Street Bangkit dari 3 Hari Pelemahan Rabu (2/9), Nvidia Melonjak 3,2%


Kamis, 03 September 2026 / 05:20 WIB
Wall Street Bangkit dari 3 Hari Pelemahan Rabu (2/9), Nvidia Melonjak 3,2%
ILUSTRASI. Bursa Amerika Serikat (Wall Street) (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu (2/9/2026), membukukan rebound setelah mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Investor mulai kembali memburu saham dan sektor yang dinilai telah mengalami tekanan berlebihan dalam beberapa sesi terakhir.

Ketiga indeks utama Wall Street kompak menguat. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 menjadi yang berkinerja paling baik dengan kenaikan 1,1%.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham PWON, SILO, dan BRMS untuk Perdagangan Kamis (3/9/2026)

Di tingkat sektoral, saham maskapai penerbangan, perusahaan tambang emas dan perak, serta bank regional menjadi penggerak utama. Sebaliknya, saham sektor perangkat lunak dan jasa masih tertekan karena investor menilai sektor tersebut berpotensi terdampak oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Indeks Philadelphia SE Semiconductor juga menguat. Indeks ini sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar saham AS sepanjang tahun ini, tetapi telah kehilangan hampir seperempat nilainya sejak akhir Juni.

Kenaikan saham semikonduktor terjadi menjelang rilis laporan keuangan kuartal II Broadcom setelah penutupan perdagangan.

Saham Nvidia, perusahaan chip yang berada di garis depan perkembangan AI, melonjak 3,2%. Sementara itu, saham Micron dan Qualcomm masing-masing menguat 2,4% dan 2%.

Lauren Cassidy, Chief Investment Officer Founders 100 ETF di Dallas, mengatakan pasar masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Namun, jika konflik berakhir, tekanan terhadap harga energi dan inflasi berpotensi mereda.

“Perang ini berlangsung lebih lama dari yang diharapkan siapa pun. Ketika perang berakhir, energi akan mereda dan inflasi tidak akan menjadi masalah sebesar sekarang,” ujar Cassidy.

Di sisi lain, Cassidy menilai fundamental pasar saham AS masih kuat setelah musim laporan keuangan yang mencatatkan kinerja positif.

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 326 Miliar Saat IHSG Turun, Cermati Saham yang Banyak Dijual

“Kami baru saja melewati musim laporan keuangan yang mencetak rekor, dengan fundamental yang sangat baik yang didorong oleh percepatan adopsi AI,” katanya.

Menurut dia, adopsi AI masih berada pada tahap awal dan mulai memasuki fase percepatan.

“Adopsi AI masih berada pada tahap yang sangat awal dan baru mulai mengalami percepatan. Kami bisa melihat pertumbuhan eksponensial dari sini,” tambah Cassidy.

Kinerja Indeks dan Saham

Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 295,01 poin atau 0,56% menjadi 53.061,89.

Indeks S&P 500 bertambah 35,16 poin atau 0,46% ke level 7.666,63. Sementara Nasdaq Composite menguat 118,05 poin atau 0,45% menjadi 26.217,83.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor material mencatat kenaikan persentase terbesar. Sementara sektor real estat menjadi satu-satunya sektor yang berakhir di zona merah.

Sejumlah saham korporasi juga mencatatkan kenaikan signifikan.

Baca Juga: Dipimpin BBCA dan BBRI, Cek Saham Net Buy Terbesar Asing, Rabu (2/9)

Saham Dell Technologies melonjak 15,8% setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba dan pendapatan tahunannya.

Saham Brown-Forman, produsen minuman yang antara lain memiliki merek Jack Daniel's, naik 3,9% setelah mencatatkan laba kuartalan di atas ekspektasi.

Sementara itu, saham Uber Technologies menguat 1,6% setelah perusahaan aplikasi transportasi tersebut mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 10% karyawannya.

Pasar Masih Dibayangi Aksi Jual Obligasi

Meski Wall Street menguat, investor masih menghadapi tekanan dari aksi jual di pasar obligasi global.

Aksi jual obligasi yang dipicu kekhawatiran terhadap inflasi dan meningkatnya utang pemerintah masih berlanjut. Kondisi tersebut diperburuk oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi.

Amerika Serikat dan Iran meningkatkan intensitas serangan dalam pertukaran serangan udara terbesar sejak Juli.

Eskalasi tersebut kembali mengurangi harapan terhadap dimulainya kembali perundingan dan meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu tekanan inflasi secara luas.

Baca Juga: Dow Jones Naik 0,47%, Wall Street Ditopang Optimisme terhadap Saham AI

Kondisi tersebut juga berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Dari sisi ekonomi AS, perusahaan pengolah data ketenagakerjaan ADP melaporkan penambahan lapangan kerja sektor swasta pada Agustus yang lebih rendah dari perkiraan.

Pesanan baru untuk barang modal inti juga direvisi turun. Data tersebut mengindikasikan adanya potensi perlambatan rencana belanja perusahaan di AS.

Investor selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi pada Kamis (3/9/2026), termasuk perdagangan internasional, biaya tenaga kerja dan produktivitas kuartal II, serta data Purchasing Managers' Index (PMI) sektor jasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×