Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG membukukan kinerja positif pada semester I 2026. Volume penjualan semen mencapai 18,28 juta ton, naik 5,6% secara tahunan (yoy) dari 17,31 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan penjualan terutama ditopang pasar domestik yang meningkat 9,7% yoy. Segmen semen kantong menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan penjualan 11,2% yoy, seiring penguatan penjualan ritel hingga ke jaringan toko bangunan.
Kenaikan volume penjualan yang dibarengi disiplin harga mendorong pendapatan SIG tumbuh 13,1% yoy menjadi Rp17,65 triliun dari Rp15,61 triliun pada semester I 2025.
Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SGMR) Melonjak 88,7% di Kuartal I-2026
Dari sisi profitabilitas, SIG mencatat laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 228 miliar. Angka ini melonjak 471% yoy. EBITDA juga tumbuh 2,6% menjadi Rp2,15 triliun.
Kinerja tersebut dicapai di tengah kenaikan biaya. Beban pokok pendapatan meningkat 11,1% yoy menjadi Rp13,85 triliun, seiring pertumbuhan volume penjualan serta kenaikan biaya bahan bakar dan energi.
Beban operasional juga naik 20,7%, terutama akibat peningkatan biaya promosi dan distribusi untuk menopang ekspansi penjualan.
SIG mengimbangi tekanan biaya melalui efisiensi dan pengelolaan keuangan yang lebih ketat. Arus kas operasi tetap positif sehingga perusahaan dapat terus menurunkan utang berbunga. Dampaknya, beban keuangan bersih turun 34,5% yoy pada semester I 2026.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan pertumbuhan penjualan merupakan hasil penguatan strategi pasar mikro, khususnya melalui penjualan ritel, penguatan kehadiran merek di tingkat toko, serta peningkatan pengetahuan produk bagi konsumen dan tenaga konstruksi.
Baca Juga: Semen Indonesia (SGMR) Bukukan Pendapatan Rp 35,24 Triliun pada 2025
"Pertumbuhan penjualan dan laba menunjukkan strategi transformasi SIG mulai memberikan hasil nyata," ujar Vita dalam keterangannya, Rabu (2/8/2026).
Memasuki semester II 2026, SIG memperkirakan prospek pasar tetap positif seiring perbaikan permintaan semen domestik.
Pertumbuhan diperkirakan masih ditopang semen kantong, sementara permintaan semen curah berpeluang pulih sejalan dengan meningkatnya aktivitas konstruksi, pembangunan infrastruktur, investasi industri, dan hilirisasi.
Untuk memperkuat pasar, SIG juga kembali menghidupkan merek Semen Kujang di Jawa Barat. Langkah ini diarahkan untuk mendekatkan produk dengan karakteristik pasar lokal sekaligus memperkuat posisi perusahaan di wilayah tersebut.
Di luar bisnis semen, SIG terus mengembangkan diri sebagai penyedia Total Building Solution. Perusahaan memperluas bisnis ke produk dan solusi bahan bangunan dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melesat 88,7% Jadi Rp 80 Miliar di Kuartal I-2026
Strategi tersebut membuka peluang yang lebih luas karena semen hanya menyumbang sekitar 11% dari total biaya material konstruksi. Artinya, sekitar 89% biaya material lainnya masih menjadi ruang pengembangan bisnis bahan bangunan.
Dengan strategi tersebut, SIG berupaya menjaga pertumbuhan sekaligus memperbaiki profitabilitas di tengah tantangan industri bahan bangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














