Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menunjukkan tanda-tanda perbaikan kinerja toko pada Juli 2026. Same store sales growth (SSSG) tercatat -8,6% secara tahunan, membaik signifikan dibandingkan -11,6% pada Juni.
Perbaikan ini turut mendorong SSSG kumulatif tujuh bulan pertama 2026 ke level 2,2%, sementara entitas anak usaha, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) mencatatkan performa yang jauh lebih kuat dengan SSSG 7,7%.
Menariknya, pelemahan pasar smartphone global sebesar 7% yoy pada kuartal kedua 2026 akibat kelangkaan chip memori ternyata tidak menyeret volume penjualan ERAA. Sepanjang semester pertama 2026, volume penjualan perangkat ponsel perusahaan justru tumbuh 6% yoy menjadi 5,35 juta unit, dengan rata-rata harga jual (ASP) naik 10%.
Baca Juga: Intip Prospek Surya Semesta (SSIA) Pasca BYD Resmikan Pabrik di Subang Smartpolitan
"Kombinasi ini mengindikasikan pelemahan SSSG belakangan lebih disebabkan oleh basis pembanding yang tinggi tahun lalu saat peluncuran iPhone 16 tertunda ketimbang mencerminkan pelemahan permintaan yang sesungguhnya," tulis Analis Sucor Sekuritas, Christofer Kojongian dalam risetnya, Selasa (1/9/2026).
Di luar segmen telepon genggam, Erablue tampil mengesankan dengan SSSG periode Januari hingga Juli mencapai 15,9% dan pertumbuhan pendapatan hingga 89% yoy.
Sementara itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menerangkan perbaikan SSSG Juli menjadi -8,6% YoY dari -11,6% pada Juni menunjukkan tekanan mulai mereda, terutama seiring berkurangnya base effect dari lonjakan penjualan iPhone 16 tahun lalu. Namun, penjualan ponsel masih menghadapi kendala pasokan memory chip.
"Ke depan, kami melihat tren SSSG berpotensi membaik secara bertahap di kuartal III-2026, didukung normalisasi base effect dan pemulihan permintaan," ucap Azis kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).
Azis bilang fundamental ERAA juga masih solid, dengan pendapatan per semester I-2026 tumbuh 22,4% YoY dan laba bersih naik 44% YoY menjadi Rp 872 miliar.
Christofer juga memperkirakan emiten ritel digital ini memasuki periode yang lebih kaya katalis di paruh kedua 2026. Sejumlah program seperti Erafone Festival Belanja, iBox Anniversary, dan Urban Republic Festival diproyeksikan menopang permintaan konsumen.
ERAA sendiri memperkirakan permintaan pada Agustus–September akan cenderung moderat karena konsumen menunggu peluncuran produk baru, dengan kontribusi signifikan dari iPhone generasi berikutnya baru terasa pada kuartal keempat 2026.
Baca Juga: Prospek Emiten Alat Berat Diproyeksi Masih Menantang, Simak Rekomendasi Analis
Di sisi lain, lini bisnis XPENG juga tengah bersiap ramp up, menargetkan penjualan semester II 2026 tumbuh 50%–60% dibandingkan semester pertama, didukung peluncuran model RHD L03 dan GX di ajang GIIAS. Jaringan dealer XPENG pun ditargetkan mencapai 20 gerai pada akhir tahun.
Christofer menaikkan target harga saham ERAA menjadi Rp 550 per saham dari semula Rp 450 per saham. Ini mencerminkan valuasi Price to Earnings Ratio (PER) 6,4 kali.
"Keunggulan ERAA terletak pada posisi dominannya di distribusi ponsel serta runway pertumbuhan yang makin lebar dari Erablue, XPENG, dan merek-merek lifestyle baru," tambah Christofer.
Pada valuasi 5,7 kali P/E forward saat ini, saham ERAA masih diperdagangkan jauh di bawah rata-rata valuasi sektor ritel yang mencapai 9,6x. Kombinasi antara komposisi laba yang lebih beragam dan katalis semester II yang lebih kuat membuka ruang bagi re-rating harga saham ke depan.
Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy saham ERAA dengan target Rp 570 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














