kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.854   11,00   0,07%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Volatilitas Pasar Saham Tinggi Jelang Pertemuan MSCI, Investor Perlu Waspada


Senin, 09 Februari 2026 / 18:51 WIB
Volatilitas Pasar Saham Tinggi Jelang Pertemuan MSCI, Investor Perlu Waspada
ILUSTRASI. IHSG ditutup menguat (ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menegaskan, pendekatan regulator kali ini berbeda karena lebih bersifat proaktif. OJK bersama SRO akan mengintensifkan komunikasi dengan MSCI, tidak hanya di level kebijakan, tetapi juga teknis.

“Sepanjang kami menyanggupi data dan kapasitasnya, kami akan merespons lebih awal. Jadi bukan menunggu terbit keputusan yang mengagetkan lagi,” ujarnya.

Jeffrey memastikan, BEI, OJK, dan KSEI akan kembali bertemu dengan MSCI pada 11 Februari 2026 untuk membahas progres implementasi proposal yang telah diajukan, sekaligus memastikan kesesuaiannya dengan metodologi MSCI.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai, arah kebijakan penguatan bursa yang disusun BEI bersama regulator sudah tepat karena menyasar likuiditas, kualitas emiten, dan tata kelola. Namun, dampaknya tidak akan instan dan sangat bergantung pada konsistensi penerapan serta penegakan aturan.

Baca Juga: Berharap Ekonomi Jadi Obat Mujarab Pasar Saham

“Dampaknya lebih ke peningkatan kepercayaan jangka menengah, bukan katalis penggerak indeks harian,” ujarnya.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menambahkan, penilaian negatif terhadap pasar saham Indonesia merupakan peringatan beruntun lintas lembaga.

MSCI memengaruhi arus ekuitas, Moody’s memengaruhi risk premium negara, sementara Goldman Sachs dan UBS berdampak pada alokasi aset investor institusi.

Meski begitu, tekanan pasar saat ini dinilai lebih bersifat perubahan persepsi risiko, bukan pelemahnya fundamental emiten. “Tidak ada pemotongan prospek laba secara luas dan neraca mayoritas emiten masih solid,” tulis riset tersebut.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menekankan, kunci pemulihan aliran dana asing terletak pada peningkatan transparansi emiten, termasuk kejelasan ultimate beneficial owner (UBO). 

Menurutnya, sinyal dari MSCI terkait isu transparansi telah membebani psikologis pasar.

Baca Juga: Pasca Vonis MSCI, Saatnya Memilih Saham yang Pasti

Sepanjang pekan ini, IHSG diperkirakan masih bergerak volatil dengan area support di kisaran 7.700–7.900 dan resistance di 8.150–8.200. Bottom IHSG dinilai belum terkonfirmasi hingga akhir kuartal I 2026.

“Kondisi ini bukan krisis fundamental, melainkan repricing risiko jangka pendek hingga menengah,” tulis Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas.

Reydi menambahkan, pelemahan indeks belakangan ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap kejelasan kebijakan. 

Jika konsistensi kebijakan terjaga, tekanan pasar berpeluang mereda secara bertahap. Namun sebaliknya, inkonsistensi berisiko menekan IHSG ke level support yang lebih rendah.

Selanjutnya: Meski Laba Turun, Maybank Sekuritas Percaya Target Harga BBNI di Rp 5.000

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (10/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×