Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Potensi rebound harga nikel pada tahun 2026 menjadi angin segar bagi prospek kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Apa lagi di tengah keterbatasan kuota produksi bijih nikel yang disetujui di Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Baru-baru ini INCO mengaku hanya memperoleh sekitar 30% dari kuota produksi nikel yang diajukan dalam RKAB 2026.
Persetujuan RKAB tersebut baru diterima dari Kementerian ESDM. Namun INCO belum merinci berapa kuota yang diajukan dan berapa jumlah kuota yang disetujui.
Pembatasan kuota tersebut berdampak pada volume produksi bijih nikel dan membuat pasokan ke proyek hilirisasi Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sorowako, dan Morowali belum optimal.
Baca Juga: Kuota Produksi Nikel Vale Indonesia (INCO) Dipangkas, Cek Rekomendasi Sahamnya
Namun, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai peluang kenaikan harga nikel berpotensi menahan tekanan terhadap kinerja perseroan.
“Keterbatasan kuota membuat kinerja operasional dan pendapatan 2026 cukup terbatas. Namun dampaknya masih moderat karena INCO memiliki fleksibilitas penjadwalan proyek, efisiensi operasional, serta kontrak jangka panjang yang relatif stabil,” ujar Mifta kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Menurut Mifta, katalis utama INCO tahun ini justru datang dari potensi rebound harga nikel seiring wacana pengetatan pasokan global.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperbaiki prospek pendapatan dan margin, terutama jika diiringi dengan kemajuan konstruksi dan commissioning bertahap proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen negatif. Ketidakpastian lanjutan terkait kuota RKAB, fluktuasi harga nikel global, serta risiko eksekusi proyek hilirisasi masih menjadi faktor yang dapat membayangi kinerja INCO sepanjang tahun ini.
Di sisi keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 902 juta atau setara Rp 15,03 triliun hingga November 2025.
Kinerja ini ditopang oleh peningkatan volume produksi dan penjualan nikel matte serta bijih nikel saprolit berkadar tinggi.
Mifta pun menilai INCO masih berpeluang mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif pada 2026, meskipun cenderung bertahap.
Kinerja laba akan sangat bergantung pada realisasi volume produksi, stabilisasi harga nikel, serta kontribusi konkret proyek hilirisasi yang mulai tercermin pada bottom line.
Untuk saat ini, Mifta masih merekomendasikan investor untuk wait and see terhadap saham INCO.
Selanjutnya: Amar Bank Kembangkan Layanan Pembayaran Digital dengan MRT Jakarta
Menarik Dibaca: Begini Cara Buka Konten Sensitif yang Tersembunyi di X
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













