kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Upaya diversifikasi, banyak manajer investasi terbitkan ETF di awal 2020


Kamis, 14 Mei 2020 / 19:29 WIB
Upaya diversifikasi, banyak manajer investasi terbitkan ETF di awal 2020
ILUSTRASI. Pencatatan perdana ETF Indo Premier berbasis MSCI Indonesia Large Cap.?

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maraknya produk Exchange Traded Fund (ETF) yang dirilis Manager Investasi (MI) di tahun ini, dinilai sebagai upaya untuk menambah diversifikasi pasar keuangan Tanah Air. Hingga hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sudah ada lima produk ETF yang melantai di bursa sejak Januari 2020.

Direktur Panin Asset Management (PAM) Rudiyanto mengatakan, sebagian besar MI yang merilis ETF tahun ini merupakan pemain lama yang memang belum memiliki produk ETF di indeks tersebut.

"Jadi seperti melengkapi portofolio produk saja agar pilihannya semakin banyak," jelas Rudiyanto kepada Kontan, Kamis (14/5).

Baca Juga: Investasi berkembang pesat jadi alasan Samuel Aset Manajemen merilis ETF baru

Adapun untuk prospek ETF serupa dengan reksadana indeks saja. Kecenderungannya, ETF dirilis karena adanya permintaan dari investor institusi yang ingin melakukan trading, hal ini menjadi daya tarik tersendiri untuk produk ETF. Sedangkan untuk reksadana indeks tidak bisa.

Sebagai informasi, BEI mencatat sudah lima MI yang merilis ETF tahun ini, di antaranya; Reksadana Indeks BNI-AM ETF MSCI ESG Indonesia pada 9 Januari 2020, Reksadana Indeks STAR ETF Sri Kehati pada 31 Januari 2020, Reksadana Premier ETF MSCI Indonesia Latge Cap pada 4 Maret 2020, Reksadana Indeks Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Index pada 5 Mei 2020, dan teranyar Reksadana Indeks SAM ETF Sri Kehati pada Kamis (14/5).

Rudiyanto menilai, perhatian investor retail cenderung mengacu pada reksadana indeks lantaran ETF di pasar sekunder masih kurang likuid. Sedangkan untuk memiliki ETF di pasar primer umumnya membutuhkan modal yang besar.

 Di sisi lain, PAM belum berencana untuk merilis ETF baru tahun ini dan akan fokus mengelola produk yang sudah ada.

Adapun untuk indeks acuan yang saat ini banyak dijadikan sebagai acuan ETF merupakan indeks berkapitalisasi besar dan likuid.

Baca Juga: Peluncuran ReksaDana Indeks SAM ETF SRI-KEHATI

"Idealnya, untuk tujuan diversifikasi indeks seharusnya berdasarkan sektor. Meskipun indeks tersebut sebagian sudah ada, namun karena sahamnya tidak likuid, maka belum banyak dijadikan acuan," ungkapnya.

Sedangkan untuk prospek ETF ke depan, Rudiyanto menyesuaikan dengan kinerja saham yang dimiliki masing-masing indeks acuan tersebut.

Untuk saat ini, dia menilai pergerakan saham masih cenderung fluktuatif, meskipun hingga akhir tahun diharapkan IHSG bisa bertengger di kisaran 5.000 hingga 6.000.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×